Kamis, 16 Januari 2014

AMd = Ahmad Madura

Saya jelaskan ya, ini bukan menjelek2kan gelar akademis seseorang. Tapi dalam perjalanan kehidupan saya ini, seringkali saya menemukan gelar2 akademis yang dipelesetkan. Entah itu untuk guyonan, entah memang itu untuk ejekan, dan segala macam alasan lainnya.
Tapi yang dilakukan anak saya ini benar2 sebuah spontanitas karena ketidaktahuannya.


Pagi itu ketika saya memintanya untuk membuka gembok pagar, lelaki kecilku, si Uda Hamzah, memberikan hiburan pagi.
Setelah membuka gembok, ia keluar pagar lengkap dengan pakaian seragam sekolahnya plus dengan tas dipunggung. Tiba2 ia berseru, "coba lihat, ada 'orang yang dipakukan' ke pohon kayu!"
Sudah bisa ditebak, kan? Si Adek Fathimah yang sedang ingin tahu dan sedang ingin ikut campur dalam semua urusan orang lain tergopoh2 untuk melihat 'orang yang dipaku' itu.
Sementara si Uni Aisyah tenang2 saja, karena semalam ia melihat langsung orang2 memakukan poster ke pohon kayu.
Sebenarnya orang yang dipakukan ke pohon kayu itu adalah caleg dari sebuah parpol.

"Coba baca Ham, apa tulisannya!" Saya memintanya untuk membacanya. Saya penasaran juga sih, siapa yang sudah mulai memaku2kan posternya di pohon.

Dan mulailah ia membaca dengan lantang. Dan meledaklah tawa kami, saya dan abinya ketika dengan percaya diri ia membacakan nama orangnya, "...Sutrisno Ahmad Madura."
Ini bener2 tawa yang reflek. Tidak berniat sedikitpun untuk mengolok2nya.

"Coba ulang lagi nama orangnya, sayang." Saya memintanya sambil keluar pagar juga untuk sekedar memastikan perkiraan saya tidak salah. Dan Hamzah-ku mengulangnya, "Sutrisno Ahmad Madura."

Jadilah sepagi itu, di waktu yang  sangat sempit Hamzah mendapatkan pelajaran tentang gelar akademis seseorang jika sudah tamat sekolahnya.

"Oo...jadi bukan Ahmad Madura ya, Mi." Hamzahku tersipu malu. Malu2 tapi cengengesan, malu yang tidak meyakinkan.

Tidak ada komentar: