Tampilkan postingan dengan label Bahagia itu Sederhana. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bahagia itu Sederhana. Tampilkan semua postingan

Minggu, 14 Desember 2014

Kreatif Mengisi Waktu

Bahagia itu.., sederhana.

Aku ini si emak yang sedang tadabburan Al-Qur'an di lepi. Gadis kecilku yang masih TK B sedang di rumah, ogah ke sekolah.
Dia berusaha mencuri perhatianku. "Bentar ya, sayang, bentar lagi."
Kemudian ia berlalu dan asyik dengan sesuatu.
Waktu berlalu, belajarku selesai dan ia pun menyetorkan hasil belajarnya.

Ternyata ia telah asyik mengutak-atik koran dan membuat topi ulang tahun berbentuk kerucut. Kuat dan kokoh karena juga dikasih lakban hitam olehnya. Lengkap dengan jumbai-jumbainya.
Agar topi itu terlihat berisi dan tidak ringan ketika ditaroh di kepala ia telah mengisinya dengan tissue.
Sejujurnya itu topi yang bagus. Karena kemudian topi itu juga bisa menjadi wadah mainan kecilnya ketika dibalikan. Seperti wadah kerucut ketika kita membeli kacang rebus.
Aku bangga melihat hasil kerjanya. Aku bahagia melihat kreatifitasnya.

Jika Nanti Aku Sudah Dewasa

Bahagia itu....sederhana?

"Nanti kalau Amah sudah dewasa, Amah akan bawa Ummi ke Mekkah."
"Benarkah, sayang?"
"Iya, Amah janji sama ALlah. Amah akan bawa babah juga."
Fathimahku berbicara penuh semangat, mata bulatnya bercahaya. Si Uda senyum-senyum di sampingnya.
"Tapi kalau nanti Adek sudah dewasa, Umminya dah tua dong. Kalau Ummi gak kuat jalan lagi, bagaimana?"
"Amah akan bimbing Ummi, Amah akan pegang tangan Ummi."
"Tapi Ummi maunya digendong, kan sudah nggak kuat jalan lagi."
Kening gadis kecilku berkerut sejenak, kemudian dia mendekat dan menarik kepala saya, mulutnya didekatkannya ke telinga saya.
"Nanti tuh kalau Amah sudah dewasa Amah kan sudah menikah tuh, Mi. Amah akan minta suami Amah menggendong Ummi. Ummi mau?"
Hamzah si Uda tertawa terkikik-kikik karena bisikan Fathimah yang kurang pelan, jadi ketahuan deh bisikannya.

Sinyal Pertanda Sudah Siap Tampil Beda

Bahagia itu..., sederhana.
Belakangan ini saya memang tak mau memaksakan diri dalam banyak hal. Belakangan ini karena hal-hal sepele saya sering merasakan fisik agak drop. Akibatnya? Human error! Hamzah mau sekolah tapi celananya belum dicuci. Alamak...
Sebenarnya dari semalam saya sudah menyadarinya. Tapi saya lemes dan males melemparnya ke mesin cuci.
Hohoho...karena melemparnya bukan perkara sepele bagi saya. Ada rangkaian menyortir jenis pakaian, mengucek-ngucek yang kotor banget dulu dengan air bersih, ngisi bak mesin, masukin deterjen, kemudian baru deh muter, mbuang air, ngisi lagi terus begitu berulang-ulang sampai di rasa bersih.

Minggu, 26 Oktober 2014

Berempat, Bertiga, Berdua, Bersatu

Sepenggal cerita menjelang anak2 tidur di malam ini.

Ditinggal pergi lagi. Sudah biasa sih sebenarnya. Orang kita sejak awal menikah sudah begitu. Tapi buat Hamzah -si Uda kecil-, ini hal yang sedikit luar biasa.
"Sepi ya, Mi. Kita cuman bertiga. Kalau abinya lama perginya kita bakal lama nih bertiganya."
"Lho kenapa memangnya, biasanyakan abi juga pergi2."
"Enggak Mi. Dulu tuh ada uni. Kalau abi pergi kita jadi ber-empat."
Saya ketawa. "Apa Uda mau tidur di kamar Ummi?"
Si Uda kecilku tertawa kegirangan dapat tawaran manis. Biasanya dulu kalau abi pergi DL, si uda nyaman saja tidur di kamarnya sendiri. Soalnya kan di kamar sebelah ada si uni. Lha...sekarang? Rumah lumayan gede ini cuman dihuni 3 orang.