Sudah lama saya ingin bercerita tentang teh ini, tapi selalu tak ada momen. Begitu ada momen di SariWangi, maka saya coba untuk menceritakannya. Heheh...sayang sekali, entah salahnya dimana, entah saya kurang mengerti, beberapa kalimat terakhir saya hilang di pos yang saya kirimkan ke http://mari-bicara.com/momen/segelas-teh-hangat-mengobati-rindu-memecah-beku.html .
Di bawah ini saya copaskan utuh dari dokumen saya, dan inilah cerita utuhnya. Selamat menikmati semoga bermanfaat.
***
Saya ini
termasuk maniak teh sejak kecil. Entah kenapa, semenjak dulu saya agak susah
meneguk air putih. Pertama karena aroma air tanah itu terlalu terasa. Benar,
kala itu kami mengkonsumsi air tanah yang diangkat ke permukaan dengan
menggunakan pompa air dragon. Kemudian ketika PAM mulai merakyat, lidah saya
terlalu sensitif terhadap aroma kaporit yang menurut saya lumayan menyengat.
Maka jadilah semenjak kecil itu saya sudah terbiasa mencemplungkan beberapa
sendok teh tubruk ke ceret air yang masih panas. Padahal itu satu-satunya ceret
yang kami miliki. Saya tetap nekat melakukannya meski dengan resiko
dikejar-kejar oleh kakak sulung saya yang marah karena hasil kerjanya saya
campuri dengan teh. Bukan teh manis, tapi teh tanpa gula.
