Sabtu, 04 Januari 2014

Jackpot : Coretan Gadisku

 Anak sholehah itu tidak dilihat dari merk bajunya, tetapi dilihat dari akhlaknya yang terpuji, (belajar) menutup auratnya, (belajar) bersyukur dan (belajar) hidup sederhana.


Membongkar2 buku2 lama dan membaca2 coretannya adalah salah satu kebiasaan saya. Meski tak selalu namun tak jarang saya menemukan surprise, entah itu uang yang keselip, entah itu catatan yang mengharubiru, entah itu coretan2 yang menambah ilmu, bahkan tak jarang coretan2 kecil di masa lalu yang membuat pipi saya bersemu.
Apapun yang saya temukan, sejauh ini saya menganggapnya jackpot.

Kemaren malam sewaktu menyortir buku anak2 saya kembali mendapat jackpot. Tadinya saya berfikir untuk membuang sebagian dari buku2 tulis yang sudah tak mungkin akan terpakai lagi dan majalah2 sobek. Rencana awalnya sih, agar kelak ketika masa pindahan tiba saya tidak terlalu repot, sudah disortir dari jauh2 hari. Dan saya menemukan sebuah tulisan yang membuat hati saya menghangat.

Melihat tulisannya saya sangat yakin itu punyanya Aisyah, gadis sulungku yang sedang di ambang remaja. Hanya saja saya kurang yakin kapan ia menuliskannya, yang jelas bukan baru2 ini, karena tulisan di buku ini masih gede2, huruf kapitalnya sesuka hati, sudah terlihat bagus namun belum bisa dikatakan indah.
Saya bingung menerka tahunnya karena tidak ada tanggal di situ. Ada beberapa petunjuk sebenarnya, yang jelas itu bukan buku tulisnya 3 tahun belakangan ini.
Barusan saya coba crosscheck ke pemiliknya. Setelah penyelidikan menyeluruh, pemiliknya, tak lain tak bukan anak gadisku, mengatakan bahwa itu buku catatan di kelas III SD. 
"Ini buku kelas III, Mi. Kan di sini buku tulisnya semuanya seragam khas BA," begitu jawabannya.

Dan saya memandangi tulisan itu dengan takjub, benar2 terharu, kawan.
Judulnya, 
Hari Pertama Masuk Sekolah

Cerita ini tentang saya masuk sek hari pertama Saya masuk sekolah di SDIT Al-Fityah. kata teman-teman sekelas saya tidak memakai Bbaju Dannis. Saya Me menjadi sedih.
Sepulang sekolah dari sekolah Saya bercerita kepada umi, dan saya ingin juga dibelikan baju Danis seperti teman-teman lainyanya.
Tapi kata umi, Anaanak sholehah itu tidak dilihat dari merek bajunya. Tetapi dari dilihat dari Akhlaknya yang terpuji, dan belajar menutup auratnya
kata umi lalagi saya harus belajar menjadi orang yang bersyukur dan belajar hidup sederhana.
Masih banyak orang lain yang hidupnya susah, Mmalah lebih susah barangkali lebih susah dari keluarga saya. Alhamdulillah
Allah memberi rezki yang cukup untuk membuat rumahk kecil untuk berteduh,
makan secukupnya dan minum susu Setiaphari hari. Dan memang saya harus belajar bersyukur
Untuk coretan kecilnya ini, Aisyah mendapat nilai 95 dari gurunya di kelas III, di sekolah barunya di BA Semarang.

Saya terharu, benar2 terharu. Saya belum lupa kejadian itu, hari pertama Aisyah memasuki sekolah dasarnya. Pulang sekolah gadis kecilku (kala itu) sedih sekali. Katanya tidak ada yang mau berteman dengannya. 
"Kata teman2 Uni ndak boleh main sama mereka karena Uni nggak pakai dannis," jawabnya ketika saya bertanya kenapa.

Sekolahnya memang menerapkan pola berbeda dengan sekolah swasta lainnya. Di sekolah ini anak2 tidak memakai baju merah putih dan baju pramuka seperti layaknya anak SD. Tapi memakai baju bebas ke sekolah, baju bebas muslim. 
Baju seragam hanya dipakai di hari Senin. Itu pun sebenarnya bukan seragam sekolah biasa tapi seragam sesuai keputusan yayasan dan merknya kebetulan memang "Dannis."

Dan saya memang menasehatinya seperti itu. Dan ia ingat nasehat itu meski saat menuliskan coretan di atas dia sudah kelas III. Saya berharap ia akan mengingat nasehat itu hingga kelak ia dewasa.
Bahwa anak sholehah itu tidak dilihat dari merk bajunya, tetapi dilihat dari akhlaknya yang terpuji, (belajar) menutup auratnya, (belajar) bersyukur dan (belajar) hidup sederhana.
Cobalah lihat orang lain, masih banyak yang hidupnya susah, malah lebih susah dari kita.




Tidak ada komentar: