Minggu, 30 Maret 2014

ALlah Di Langit

Sebenarnya Fathimahku bukan gadis kecil yang penakut, hanya saja terkadang dia terpengaruh oleh gaya kedua kakaknya, si Uni dan si Uda. Sehingga kadang-kadang dia jadi 'sok' imut begitu, hehehe.

Sudah cukup sering saya melihat Fathimah berkeliaran di rumah ini sendirian saja. Tapi begitu diingatkan oleh kakak-kakaknya tentang suasana gelap dan menakutkan, Fathimah jadi ogah melanjutkan aktifitasnya, maunya di temani.

Malam ini saya dapat kisah. Fathimahku berceloteh tentangALlah ketika dia bilang dia merasa takut.
"Tidak perlu takut sayang, selalu ada ALlah yang menjaga. ALlah selalu melihat, jadi gak usah takut ya," begitu saya membujuknya.



Bujukan yang sama juga saya berikan kepada kedua kakaknya ketika mereka enggan melangkah lebih jauh dari saya.
"Hantu itu gak ada, itu bohong-bohongan. Yang suka menggangu itu jin yang jahat, tapi mereka tidak berani mengganggu di rumah orang yang shalat dan rajin mengaji. Kalau ada terasa takut tuh, perut jadi kejang atau mules-mules begitu segera baca ta'awuzd ya."

Tapi biasanya mereka lupa lagi, apalagi kalau sudah dapat cerita tentang hantu dari temannya di sekolah.


Malam ini Fathimah berniat mengambil air putih sendiri. Saya berdiri sekitar 3 meter darinya sambil menyiapkan roti keju untuknya. Kemudian saya meminta tolong padanya untuk memasukkan kejunya ke kulkas. Kulkas itu persis di samping dispenser, hanya saja agak ke sana dan di sana lampu memang tidak saya nyalakan.
"Amah takut lo, Mi."
"Nggak takut sayang, ada Ummi di sini, ada ALlah yang selalu menemani."
"Tidak! Bukan ALlah yang menemani, tapi Ummi."
"Oh tidak Dek, selalu ada ALlah yang menemani kita. Kemanapun kita pergi ALlah selalu melihat dan mengawasi."
"Tidak Mi, kita ini lagi di bumi, di rumah kita, bukan sedang di langit."
Haa...saya melongo, apa maksudnya itu?
"ALlah itu di langit, Mi. Itu jauh." Fathimahku menambahkan.
Oalah...begini nih pinternya anak saya mempertahankan pendapatnya. Biasanya logika saya harus lebih masuk baru dia bisa menerimanya.

"Fathimah, Dek, dengar ya," saya berbicara sambil memandang matanya. "ALlah itu bukan di langit. Kita tak pernah tahu dimana 'persis'nya ALlah itu. Tetapi ALlah itu selalu mengawasi kita, ALlah itu sangat dekat, Dia tahu kita ini lagi ngapain, Dia tahu kita ini sedang sembunyi dimana. ALlah itu Maha Tahu dan Maha Melihat.
Dimanapun Fathimah berada, ALlah kan selalu mengawasi dan menemani. Fathimah mengerti?"

Fathimah kecilku mengangguk-angguk.
"Jadi kita tidak perlu takut, Mi."
"Tidak sayang, kita tidak perlu takut. Kita harus yakin bahwa ALlah selalu bersama kita."

Kemudian Fathimahku pergi membawa piring kecil berisi potongan roti kejunya ke tempat Udanya, Hamzah. Ku lihat ia sibuk menonton dan sibuk dengan makanannya. Barangkali dia lupa dengan pembicaraan kami barusan. Tapi saya malah kepikiran. Dapat ide dari mana, ya, tuh anak kalau ALlah itu di langit.
Seingat saya, saya tak pernah mengajarkan anak-anak tentang posisi persisnya ALlah itu.

Sejauh ini saya tak pernah kesulitan mengajarkan tentang ALlah pada anak-anak. Karena sedapat mungkin saya selalu mengajarkan mereka untuk bisa merasakan pengawasan ALlah, saya juga terbiasa menyenandungkan nasyid ke telinga mereka.
"Kala engkau* bertanya, Ummi ALlah dimana, Ummi kan berkata, ALlah dekat saja.
Allah Maha Melihat, apa yang kita perbuat, ALlah pengabul do'a, hamba-Nya yang meminta.
Setiap langkah yang ditempuh, hendaklah tuju pada-Nya, sebab jika bukan karena-Nya semua kan tersia.
Bila kau luruskan niatmu, ALlah pasti kan bantu, tanamkanlah dalam hatimu, ALlah dekat selalu."

*engkau biasanya saya ganti dengan nama anak-anak saya, tergantung ke telinga siapa saya menyenandungkan nasyid itu.

Dan alhamdulillah selama ini anak-anak juga tak pernah bertanya aneh-aneh tentang ALlah. Semua mengalir dengan lancar. Jika kesimpulan Fathimah ini boleh dikatakan sebuah sandungan, maka inilah kali pertamanya saya tersandung.


Tidak berniat menuduh, tapi karena Fathimah sudah sekolah, barangkali ada masukan-masukan yang didengarnya, bisa jadi itu dari teman. Saya berniat menggandeng ibu gurunya. Saya berharap penjelasan saya dan penjelasan ibu gurunya seiring sejalan agar ia tidak bingung.

Ok deh, Selasa baru sekolah lagi. Itu artinya Selasa baru saya bisa ketemu ibu gurunya.

Tidak ada komentar: