Bolehlah ku katakan ini adalah sebuah penantian panjang, bahkan saangat panjang.
Coba bayangkan, dari umur 2 tahunan lelaki kecilku ini tertarik dengan games PXP dsj karena melihat abang-abang sepupunya yang bersitungkin dengan PxPnya. Dan ia merengek meminta seperti punya abang-abangnya. Tapi yang saya suguhkan kepadanya hanya segala macam CD dan DVD yang beraroma ilmu pengetahuan dan pendidikan, seperti Bobby Bola dan Akal Interaktif.
Untuk sementara keinginannya bisa diredam.
Pertama, kami kala itu berdomisili jauh dari abang-abang sepupunya. Pertemuan Hamzah lelaki kecilku dengan para abang hanya ketika kami membawanya pulang kampung kala lebaran.
Ampun...ampun. Dulu bahkan saya tak bisa menjauhkannya. Lha bagaimana mau dijauhkan, ketemunya saja jarang-jarang toh? Saya belum lupa ketika lelaki kecil 2 tahunan itu menangis-nangis ingin ikut mengendalikan permainan yang terhubung ke pesawat TV kala itu. Kemudian ia 'dibohongi' dengan diberikan remote yang rusak. Dasar bocah, ia sumringah kesenangan, merasa sudah terlibat dalam permainan, padahal bohong-bohongan saja tuh.
Kepindahan kami ke Semarang ternyata cukup menenggelam keinginannya. Setahun pertama di sini, ia belum bersekolah, sehingga praktis sehari-harinya ia sibuk dalam kontrol saya. Belajar sambil bersenang-senang, menggunting-gunting, melipat kertas, menggores-goreskan pensil, terlibat dalam urusan 'dalam negeri', dan pada waktu-waktu tertentu saya izinkan bermain di komputer.
Namun tidak di tahun berikutnya, di tahun pertama ia di SD-nya.
Di pertemuan co-parenting pertama, ia tertegun melihat teman-teman seangkatannya duduk mendeprok di lantai dengan sesuatu yang diutak-atik. Pertama kali saya heran, apa itu? Ukurannya seukuran hp yang agak gede. Sempat saya berfikir itu adalah tablet. Dan saya sungguh kasihan melihat wajah lelaki kecilku yang saangat ingin.
"Apa itu Uda?"
"Itu lo Mi, games. Seperti punya Abang Yamin, tapi ini bisa dibawa-bawa."
"Apa namanya, kok kayak hand phone gitu?" Saya masih bingung, kok anak kecil dibiarin main-main di hp dalam jangka waktu yang lama, gitu lo. Terus saya yang ndeso ini makin bingung, kok anak-anak sebegitu tertariknya dengan permainnya di hp. Secanggih apakah permainnya?
"Hamzah juga gak tahu namanya, Mi. Hamzah mau, Mi."
"Hm...coba tanya ke teman apa namanya, berapa belinya." Saya pikir kalau tidak terlalu mahal mungkin akan saya belikan juga. Saya ingat games menyusun-nyusun balok yang pernah saya punyai dulu ketika saya masih kecil, energinya dari baterai juga.
Kemudian ia kembali ke tempat teman-tempatnya untuk bertanya.
"Ada yang 300 ribu, Mi. Ada juga yang 400 ribu"
What?? Saya langsung kaget. Duit sebanyak itu hanya untuk ngegames, huff...bener-bener deh saya nggak habis pikir.
"Maaf ya Uda Hamzah, Ummi tidak bisa membelikan, harganya mahal, Nak. Lagian ngegames itu bikin candu, jadi pengen main terus, penasaran soalnya. Coba Uda ingat kalau lagi main Bobby Bola dan Akal di komputer, susah toh disuruh berhenti. Ingat tidak, Ummi sampai mencabut kabelnya karena Uda tidak mau berhenti."
"Habis asyik kok, Mi."
"Iya asyik, Ummi tahu. Karena asyik itulah ia menjadi candu sehingga melanggar kesepakatan dengan Ummi, tidak mendengar ketika disuruh berhenti. Itulah sayang, apalagi kalau games bisa dibawa kemana-mana. Aduh, nanti anak Ummi jadi tuli, nggak mendengar dipanggil, matanya rusak karena hanya fokus pada layar mainan."
Namun lelaki kecilku masih merajuk. "Tapi di Semarang tidak asyik kok, rumahnya tidak ada halaman, tidak seperti rumah kita di Pekanbaru dulu, ayo kita balik lagi." Sehingga akhirnya saya harus memeluknya dan membisikkan kata-kata agar ia bersabar dengan sabar yang saangat banyak.
Begitulah. Maka setiap ada pertemuan orang tua murid di sekolah, saya lebih memilih meninggalkannya di rumah agar ia tidak cemburu melihat teman-temannya bermain PXP pocket. Namun sayang, kondisi lebih sering memaksa saya memboyong mereka semua ke sekolah. Dan bisa ditebak, setelah itu Hamzah akan ikut mendeprok njadi dayang-dayang di samping teman-temannya.
Sejujurnya, sebagai seorang ibu saya sering merasa kasihan padanya dalam kondisi seperti itu. Terkadang saya berfikir uang sejumlah itu masih sangguplah untuk saya. Namun kecintaanku padanya harus membuatku memenej rasa kasihan ini. Akan jadi apa kelak lelaki kecilku ini jika hanya dengan wajah memelasnya emaknya langsung luluh?
"Ayo menabung kalau Uda memang mau."
"Memangnya Ummi tahu tempat orang menjualnya. Ummi bilang kemaren nggak tahu."
"Yah...gampanglah itu, pasti ada tempat menjualnya, kan? Lagi pula Uda pun sudah tahu namanya, Ummi bisa kok nanya-nanya."
"Serius Mi! Ummi tidak bohongkan?"
"Nggak lah. Masa Ummi bohong. Bohongkan itu dosa."
Begitulah. Bahkan hingga berbulan-bulan setelah itu, bahkan masuk ke hitungan tahun, PXP itu belum juga di tangannya. Setiap ada uang terkumpul ia lebih memilih membeli buku atau mainan hotwhells. Ia lupa lagi dengan PXP. Dan saya pun sengaja membiarkannya, saya pun tak ingin untuk mengingatkannya. Bagi saya ia bermain dengan buku atau mobil-mobilan jauh lebih baik dari pada duduk mendeprok dengan PXP.
Hingga akhirnya kemaren itu, sepertinya ada yang mengingatkannya lagi. Saya bahkan curiga ada dari teman-temannya yang membawa mainan itu ke sekolah. Sehingga pada kunjungan kami di akhir Maret yang lalu ke toko buku Gramedia, matanya langsung menancap pada PXP di etalase. Saya kaget juga. Oalah...ternyata ada toh di Gramedia. Aduh...ini toh. Saya sampai ikut-ikutan mempelototi dalam jarak dekat. Padahal barang-barang itu sudah sering saya lihat, hanya saja karena tidak mengerti benda apa itu dan tiada kegunaan saya tak berkehendak untuk mampir.
"Uang Hamzah sudah banyak kan, Mi. Boleh ya beli ini?"
"Aduh gimana ya, Ham, jangan sekarang deh. Ummi nggak ngerti yang beginian, nanti salah barang, salah beli lagi."
"Tidak Mi, punya teman Hamzah juga seperti ini. Ada juga sih model lain."
Tuh kan, kecurigaan saya terbukti. Bahwa ada teman-temannya yang membawa PXP ke sekolah.
"Begini ya Ham, Ummi ini nggak ngerti soal beginian. Tunggu Abi dulunya, nanti kita ajak Abi ke sini."
Saya tidak bisa mengelak. Sekarang ia sudah di penghujung kelas 3. Sudah 9 tahun pada Maret yang lalu. Itu artinya sudah sekitar 7 tahun ia menunggu untuk bisa memiliki dan bermain dengan bebas benda keramat yang sangat diinginkannya itu.
Huff! Baiklah!
"Begini ya Uda Hamzah. Sekarang Ummi sudah tahu tempat menjualnya. Tapi tidak sekarang, ya! Ada hal-hal yang perlu kita bicarakan. Harus ada kesepakatan. Walau akan dibeli dengan uang Uda, tapi bukan berarti Uda bisa semau-maunya. Bagaimana?"
"Iya Mi, Hamzah setuju. Terima kasih ya, Mi. Hamzah janji akan belajar dulu, mengaji dulu, tidak mengganggu adek, mainnya tidak boleh lama-lama, 1/2 jam saja sehari, iya kan?"
Begitulah. Akhirnya kemaren pada siang menjelang sore PXP seharga 250 ribu itu menjadi milik Hamzah lelaki kecilku.
Semenjak terakhir kami ke Gramedia itu ia sangat rajin menabungkan uang jajannya yang tidak banyak itu. Bahkan ia bela-belain menabungkan semuanya, tidak jajan sedikitpun demi menunjukkan betapa seriusnya ia. Hehehe...
Dan saya biarkan saja, lebih banyak uang yang terkumpul 'kan lebih baik. Padahal uang tabungannya sudah banyak lo, sudah 700 ribu lebih.
Saya senang melihatnya tertawa senang menikmati buah kesabarannya. Dan rasa sayang saya semakin bertambah ketika ia mau meminjamkan mainnya pada kedua saudarinya. Alhamdulillah.
Semoga jadi anak yang sholeh ya, Nak. Perasaan cinta ini semakin mendalam melihat engkau tidak memaksakan keinginanmu, lelaki kecilku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar