Jumat, 31 Oktober 2014

Lelaki Kecilku Tak Rela Umminya Dihina

Sedang belajar memuji sekolah anakku lagi.
Kemaren lusa di siang menjelang ashar, lelaki kecilku bercerita bahwa ia sangat marah pada temannya. Tapi karena saya telah membisikinya sejak zaman dulu kala bahwa ia hanya boleh balas memukul, menampar ataupun menendang jika ia memang tak bisa bersabar dan itupun harus temannya yang memulai uji fisik duluan.


Kemaren lusa itu, lelaki kecil ini marah karena temannya telah mengejek saya. Saya coba usut, ternyata lelaki kecil ini telah menolak membagikan lauk makan siangnya pada si teman.
Lalu si teman bilang, "Huu...dasar Ummimu cerewet, bla...bla...bla." Lelaki kecilku marah menahan emosinya.
Saya tegaskan kenapa harus marah? Biarkan saja, toh kita tidak akan mati hanya gara2 kita diejek. "Ummi nih ya, Ham, jangankan anak kecil, orang dewasa saja kalau mengejek akan Ummi biarkan. Jangan biarkan kita dibikin emosi oleh orang lain. Ayo belajar sabar, anggap ini pelatihan mengelola emosi."
"Tapi Mi, Uda gak suka kalau ada yang mengejek Ummi!" Lelaki kecilku menjerit.
Meski mencoba berempati atas gundahnya, tak urung hatiku melambung2 berjingkrakan, terbang ke langit tinggi. Jiaahh...*edisi si emak mengangkasa*

Minggu, 26 Oktober 2014

Berempat, Bertiga, Berdua, Bersatu

Sepenggal cerita menjelang anak2 tidur di malam ini.

Ditinggal pergi lagi. Sudah biasa sih sebenarnya. Orang kita sejak awal menikah sudah begitu. Tapi buat Hamzah -si Uda kecil-, ini hal yang sedikit luar biasa.
"Sepi ya, Mi. Kita cuman bertiga. Kalau abinya lama perginya kita bakal lama nih bertiganya."
"Lho kenapa memangnya, biasanyakan abi juga pergi2."
"Enggak Mi. Dulu tuh ada uni. Kalau abi pergi kita jadi ber-empat."
Saya ketawa. "Apa Uda mau tidur di kamar Ummi?"
Si Uda kecilku tertawa kegirangan dapat tawaran manis. Biasanya dulu kalau abi pergi DL, si uda nyaman saja tidur di kamarnya sendiri. Soalnya kan di kamar sebelah ada si uni. Lha...sekarang? Rumah lumayan gede ini cuman dihuni 3 orang.