Jumat, 31 Oktober 2014

Lelaki Kecilku Tak Rela Umminya Dihina

Sedang belajar memuji sekolah anakku lagi.
Kemaren lusa di siang menjelang ashar, lelaki kecilku bercerita bahwa ia sangat marah pada temannya. Tapi karena saya telah membisikinya sejak zaman dulu kala bahwa ia hanya boleh balas memukul, menampar ataupun menendang jika ia memang tak bisa bersabar dan itupun harus temannya yang memulai uji fisik duluan.


Kemaren lusa itu, lelaki kecil ini marah karena temannya telah mengejek saya. Saya coba usut, ternyata lelaki kecil ini telah menolak membagikan lauk makan siangnya pada si teman.
Lalu si teman bilang, "Huu...dasar Ummimu cerewet, bla...bla...bla." Lelaki kecilku marah menahan emosinya.
Saya tegaskan kenapa harus marah? Biarkan saja, toh kita tidak akan mati hanya gara2 kita diejek. "Ummi nih ya, Ham, jangankan anak kecil, orang dewasa saja kalau mengejek akan Ummi biarkan. Jangan biarkan kita dibikin emosi oleh orang lain. Ayo belajar sabar, anggap ini pelatihan mengelola emosi."
"Tapi Mi, Uda gak suka kalau ada yang mengejek Ummi!" Lelaki kecilku menjerit.
Meski mencoba berempati atas gundahnya, tak urung hatiku melambung2 berjingkrakan, terbang ke langit tinggi. Jiaahh...*edisi si emak mengangkasa*


"Tapi Uda bingung yang mana orang tuanya."
"Apa?"
"Uda mau cari orang tuanya, Mi."
Waduh...bahaya nih. Segera saya telpon walasnya, saya kabari perbincangan kami. "Tolong ya Bu. Tolong jangan diabaikan, bla...bla...bla." Walau sebenarnya bagian sisi hati saya yang sedikit nakal ingin melihat apa yang akan dilakukannya begitu bertemu orang tua temannya.

"Uda Hamzah anak Ummi yang sholeh, dengar ya, Ummi sudah menghubungi bu guru. Ummi sudah ceritakan. Jadi besok Uda tidak perlu mencari orang tua H*sy*, ya. Bu guru bilang, besok akan diurusnya."
Lelaki kecilku yang patuh ini menurut. Ia (masih) percaya pada perkataan emaknya.
Namun dalam hati saya berharap, semoga ini bukan janji keling si guru saja. Sebagai orang tua saya berharap sikap responsif, bukan basa basi asal menampung keluhan saja. Sebatas sikap meredam namun tanpa aksi.
Saya yakin, sikap responsif sekolah sangat diharapkan para orang tua murid sebagai imbalan karena telah menggandeng sekolah sebagai mitra dalam mendidik anak. 


Esoknya.
"Gimana sayang, Bu guru bilang apa di sekolah?"
"Bu guru bilang, tidak boleh memaksa teman untuk membagikan bekal makan siangnya. Tidak boleh marah kalau tidak dikasih. Trus Uda bilang sama teman itu, "tuh, dengar tuh," "iya, aku dengar" kata teman itu."
Walau cuma segitu laporannya, saya sudah cukup puas. Saya tentu tidak boleh berharap lebih kalau memang segitu yang bisa saya peroleh. Alhamdulillah. Itu sudah cukup.


Walau sebenarnya saya juga ingin mendengar si guru menasehati anak2, bahwa tidak boleh mengejek orang tua teman. Mengejek orang tua teman sama saja dengan mengejek orang tua kita sendiri tatkala teman kita memilih membalas ejekan. Itu termaktub dalam hadits rasul saw, dan itu adalah bagian dari pendidikan karakter.
Atau jangan2 ibu gurunya ada bilang begitu, hanya saja si uda lelaki kecilku merasa itu tidak penting lagi karena sudah mendapatkannya dari emaknya. (episode husnuzhon nih )


Tidak ada komentar: