“Beli sepatu dong Mi,” pinta Hamzah.
Saya melongo, sepatu? “Ada apa dengan sepatunya, gak muat lagi atau sudah sobek?” saya bertanya ingin
tahu.
Lelaki kecilku cengengesan.
“Dia mau hadiahnya Mi,”timpal Aisyah, gadisku
yang sedang tumbuh besar.
Hadiah? Aku makin penasaran, hm adakah sesuatu yang
tidak ku ketahui? Dan mengalirlah cerita tentang iklan sepatu itu dari mulut
kedua bocahku. Jadi ceritanya beli sepatu dapat hadiah mobil. Mobil-mobilan ya,
bukan mobil sungguhan.
Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah membelikan
Hamzah sepatu sandal berhadiah tank mainan beremot kontrol. Baik sepatu sandal
ataupun rencana sepatu yang mau dibeli Hamzah ini juga dari merek yang sama. Hm,
trik penjual sepatu untuk memikat anak-anak.
Saya akui hadiah mainan tank yang dulu memang cukup bagus, yang berakibat harga sepatu sandalnya juga bagus.
Saya akui hadiah mainan tank yang dulu memang cukup bagus, yang berakibat harga sepatu sandalnya juga bagus.
“Tapi sepatu Hamzah kan masih bisa dipakai sayang,” saya
mencoba bernegosiasi dan bersimpati atas keinginannya.
“Di simpan dulu, Mi,
yang baru itu untuk cadangan,” Hamzah mencoba menjelaskan maksudnya.
Saya tak
bisa menahan ketawa. Bagaimana tidak, Hamzah ini satu-satunya anak saya yang
jarang meminta dibelikan ini dan itu. Anak yang paling pengertian menurut saya,
hemat dan tidak boros. Saya serius, jangan mesem begitu membacanya. Bukan
sekali dua kali saya menemukannya tidak tertarik dengan fashion atau benda apa
saja yang saya belikan.
“Sudah Mi, cukup, cukup. Hamzah tidak butuh, nanti uang Ummi
habis buat beli baju Hamzah aja,” begitu katanya dulu, ketika saya memilihkan
beberapa kaos berkrah untuk di pakainya. Saya tersenyum saja kala itu,
4 kaos itu hanya berharga 105 ribu rupiah. Padahal dia lagi butuh baju lho,
sudah banyak baju-bajunya yang tidak bisa dipakai lagi.
Begitu juga ketika kami
ke toko buku. Maka pertanyaannya adalah, “Harga buku ini mahal tidak Mi, kalau
mahal tidak usah saja, nanti uang Ummi habis.” Lha kalau sudah dengar begitu
malah saya tidak tega. Padahal kala itu, kami ke toko buku karena salah satu
momennya dia naik jilid di qiro’ati dan minta hadiah buku. Saya ingat sekali,
Fathimah - 4 tahun -tanpa rasa bersalah mengambil 2 buku dengan harga lumayan.
Bahkan masih merasa kurang dan sibuk menghitung-hitung dengan jari mungilnya
bahwa dia masih butuh beberapa buku lagi. Aisyahpun sama, tak beda jauh dengan
Fathimah, tapi karena dia sudah besar (10 tahun) dan bukan momennya dia beli
buku, dengan tegas terpaksa saya bilang : s a t u saja.
Dari ketiganya, buku Hamzahlah yang
paling murah, hanya 12 ribu rupiah. Saya sampai berkali-kali bilang, ayo pilih
lagi biar Ummi belikan. Bahkan saya sudah bilang boleh seharga 50 ribuan. Tapi
itulah lelaki kecilku, “cukup Mi, nanti uang Ummi habis.”
“Ummi tidak keberatan belikan sepatu, kalau sepatunya sudah
rusak. Nah sekarang sepatunya masih bagus, masih bisa dipakai, kenapa harus
dibeli. Kan sayang-sayang duitnya.” Saya mencoba memberi pengertian. “Coba
cerita sama Ummi, apa yang membuat Uda pengen banget beli sepatu?”
“Hadiah mobilnya bagus Mi. Hamzah pengen. Abi bilang gak
boleh lagi beli mobil mainan. Kata Abi hotswhellnya dah banyak, gak boleh
lagi.” Hamzah menjelaskan inginnya. Begitulah, setelah saya coba
memancing-mancing lebih jauh, ternyata alasannya tidak berubah. Itu artinya
keinginannya untuk beli sepatu tidak bisa saya kabulkan.Ini hanya ingin, bukan butuh, itu berbeda.
Alhamdulillah, meski terlihat sangat kecewa tapi Hamzah
nurut, tidak ngomel-ngomel apalagi merajuk.
Sejujurnya ada rasa di hati saya ini, tidak tega. Kan saya sudah
bilang, Hamzah ini jarang meminta, qana’ah, bisa diajak kompromi, pengertian,
banyak deh nilai plusnya di mata saya. Tapi tentu bukanlah lagi bernama kasih
sayang yang mendidik jika saya membelikan sepatu hanya karena ia inginkan
hadiahnya, sebagus apapun sepatu itu.
“Sabar, selesai ujian kan bisa beli sepatu,” saya mencoba
menghapus kecewanya. “Ada jatah sepatu buat Uda, karena kan sepatu ini sudah
setahun.”
“Kalau Hamzah nabung gimana, Mi, boleh tidak beli sepatunya
pakai uang Hamzah,” Hamzah masih mencoba bernegosiasi.
Saya tersenyum. Baiklah. “Uda mau melakukannya?” saya
bertanya memastikan.
“Mau ,Mi,” jawab Hamzah bersemangat. “Tolong belikan
Hamzah celengan yang besar ya, Mi, Hamzah butuh uang yang banyak untuk membeli
sepatu baru.”
“Nih, pakai saja yang ini,” saya menyodorkan celengan yang
sudah tak terpakai. Hamzah bergeming. “Ada kuncinya, lho,” ujar saya menarik
perhatiannya.
Jadilah sesore kemaren lusa itu Hamzah mengambil celengan
yang sudah tidak terpakai lagi karena isinya sudah dibongkar dan ditukarkan ke
koperasi sekolah anak-anak. Hamzah dan Aisyah sudah lama tidak memakai
celengan. Yaitu semenjak mereka berdua memiliki dompet, sisa uang jajan disekolah dan hasil menggandakan uangnya
dengan saya, terbiasa disimpan di dompet mereka masing-masing sebelum saya pindahkan ke bank, bukan di
celengan.
Kemudian mulailah lelaki kecilku itu sibuk menghitung
lembar-lembar seribu dua ribunya, sisa belanja minggu lalu. Sayapun langsung
menggandakannya biar dia senang. Dan uang yang ada di dompetpun langsung pindah
rumah ke celengan. “Biar terkunci, Mi, nanti kalau sudah banyak dihitung,”
Hamzah menjawab ketika saya tanya kenapa.
Lelaki kecilku bersemangat sekali. Saking bersemangatnya
bahkan sudah 2 hari ini dia enggan menjajankan uang sakunya, langsung
dimasukkan ke celengan. Tentu saja saya kasihan. Uang sakunya cuma 3 riburupiah, sekolah sampai pukul 2 siang.
“Dibawa aja dulu uang jajannya ke sekolah, nanti kalau ada
sisanya baru dimasukkan ke celengan,” saya memberi saran.
“Tidak ,Mi,” tegas Hamzah. “Nanti malah jadi pengen jajan,
kalau habis bagaimana.”
| Lelaki kecilku, Hamzah (dok.pribadi) |
Ternyata tidak cukup sampai di situ. Seperti Hamzah memikirkan
hal yang lain. “Mi, bagaimana dengan uang Hamzah yang di bank, masih ada tidak?”
“Masih,” saya bingung, apa maksudnya ini. “Dengar ya, Ham,
sepatu Hamzah masih bagus, jadi uang tabungan yang di bank itu tidak boleh
diambil-ambil untuk hal-hal yang tidak perlu.” Saya merasa perlu untuk
menegaskannya. Memang selama ini sisa uang jajan anak-anak dan hasil
menggandakan uangnya dengan saya, saya simpan di bank. Anak-anak tahu itu, dan
peraturan pengambilannyapun mereka sudah tahu. Hanya untuk hal-hal yang sangat
penting. Seperti mereka butuh biaya atau butuh beli sesuatu tapi saya dalam
kondisi tidak memegang uang lebih.
“Bukan begitu, Mi,
kata Abi setiap jajan bakso sama Hamzah, ‘ini pakai uang Hamzah yang di bank ya,’ begitu Abi bilang,”
Hamzah bersemangat sekali menjelaskannya di perjalanan pulang dari sekolah. “Hamzah
kan takut, Mi, jangan-jangan uang Hamzah sudah habis diambil Abi.”
Hahaha...ini anak mertuaku sepertinya perlu dijewer sayang juga
nih telinganya. Bikin lelaki kecilku ketar ketir saja.
“Tidak, uang Uda dan Uni masih utuh di bank. Uang itu Ummi
yang pegang, jangan khawatir.”
“Tapi, Mi...”
“Sudah, Abinya bercanda aja kok, jangan diambil hati.”
Hilang sudah kekhawatirannya. “Terima kasih, Mi,” Hamzah
memelukku di angkot.
Ondeh mandeh...hatiku meleleh. Tidak, aku harus kuat.
Tinggal sebentar lagi kok, ini sudah memasuki akhir Mei. Rencana beli sepatu
baru untuk anak-anak sekitar awal Juli, awal tahun ajaran baru. Uff...
“Ditabungkan uangnya ya, nanti kalau kurang insyaaLlah Ummi
tambah,” saya merengkuhnya.
“Uni juga ya, Mi,” Aisyah ikut mengajukan diri.
“Baiklah, tentu saja Uni juga.”
“Amah juga ya, Mi,” si kecil Fathimah ikut-ikutan.
"Baiklah."
Tidak ada komentar:
Posting Komentar