Minggu, 02 Juni 2013

Jum'atan Pertama Lelaki Kecilku Tanpa Abi

“Nanti kalau sudah kelas 3, Hamzah akan benci hari Jum’at.” Itulah celetukan lelaki kecilku ketika seorang ibu (orang tua murid yang lain) menanyakan kenapa Hamzah belum jum’atan di sekolah. Jum’at itu saya yang bertugas menjemputnya, meski sebenarnya Abinya di dalam kota. Tetapi karena kedatangan Kepala Kantor Pusat, Abinya tidak bisa meninggalkan kantor seperti biasa.

“Kenapa?” Saya penasaran dong, pengen mendengar jawabannya. Meski sebenarnya saya sudah tahu apa jawabannya. Ternyata menurut Hamzah, karena jum’atan di sekolah itu tidak asik, asiknya ikut jum’atan itu di kantor Abi atau bersama Abi. Saya makin geli mendengarnya. Padahal setahu saya, Hamzah bersemangat ikut jum'atan di kantor Abi karena itu berarti habis jum'atan bisa bermain internet sepuasnya dengan sinyal inet yang lancar. Atau kalau tidak sholat di kantor, berarti sholat di mesjid dekat rumah. Itu artinya habis jum'atan bisa berkeliling-keliling dulu seputaran kompleks sebelum masuk ke rumah.

Lelaki kecilku ini baru Maret kemaren 8 tahun usianya. Meski begitu saya ingin ia terbiasa melakukan jum’atan,
seperti halnya ia dibiasakan untuk sholat 5 waktu. Sejujurnya tidak mudah bagi saya untuk membiasakannya.
Alasannya :

pertama, karena Abinya jarang sekali bisa pulang ke rumah untuk mengajak Hamzah jum’atan, sekalipun  Beliau berada di dalam kota. Ketika Beliau, si Abi, tugas ke luar kota atau masih di luar kota  pas pada hari Jum’at, maka otomatis semakin tak mungkin untuk pulang ke rumah hanya demi mengajak Hamzah jum’atan.

kedua, karena Hamzah satu-satunya anak lelaki saya, dan saya jauh di rantau orang, sehingga tidak 
memungkinkan saya untuk menitipkannya kepada saudara ketika jam sholat Jum’at agar ia pergi sholat. 
Ditambah lagi, tetangga lelaki saya yang rata-rata bapak-bapak usia lanjut, sangat tidak mungkin untuk
menitipkannya.

ketiga, karena saya termasuk ibu yang tidak suka anak-anaknya berkeluyuran, meski itu hanya bermain di seputar komplek. Saya agak khawatir. Awal masa menikah dan punya anak, saya berada di kota Pekanbaru. Suatu daerah yang termasuk dalam angka penculikan yang cukup tinggi. Barangkali karena Pekanbaru sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia (Malaka). Kemudian, Pekanbaru juga termasuk daerah dengan tingkat sodomi anak-anak lelaki yang cukup tinggi, meski itu bersifat musiman. Bahkan dulu ketika Aisyah (kakak Hamzah) berusia 1 tahun, seorang anak lelaki 8 tahun yang disuruh ibunya untuk membeli jeruk nipis ke warung, tidak pernah pulang lagi ke rumahnya. Sekitar 6 bulan kemudian ditemukan seonggok tengkorak di daerah Simpang Ardath dengan serpihan baju yang masih bisa dikenali keluarganya. Dan keluarga anak lelaki itu tinggal bersebelahan komplek dengan kontrakan saya kala itu. Saya jadi tidak tenang jika anak-anak saya bermain berkeliaran, meski itu di komplek perumahan.
Oleh karena itu, Hamzah jadi jarang saya lepaskan sendiri, ditambah lagi sekarang di sekitaran rumah kami tiada teman sebaya bagi Hamzah.

Lelaki kecilku, Hamzah (dok. pribadi)
Begitulah, Hamzah akhirnya jadi enggan pergi sendiri ke mesjid untuk sholat Jum’at jika Abinya tidak ada. Dengan alasan tidak ada teman.

Nah di sekolah Hamzah ini, anak-anak kelas 2 pulang pada pukul 10 pagi saban Jum'atnya. Hanya anak-anak kelas 3 hingga 6 yang melakukan Jum’atan di sekolah.
Dulu saya pernah menitipkannya pada ustadz di sekolahnya, berhubung saya masih di sekolah di jam jum’atan itu. Tetapi Hamzah menangis karena tidak nyaman sholat bersama kakak-kakak laki-laki di sekolah, dan merasa belum kenal dengan semua ustadz di sekolah.
Demikianlah sehingga ketika Abinya tidak dinas ke luar kota, saya meminta Beliau untuk menyempatkan menjemput Hamzah ke sekolah dan sekalian mengajaknya jum’atan. Senyampang dia masih kecil ini. Saya khawatir jika kelak di usianya yang saya percayakan untuk ke mesjid sendiri, justru di saat itu dia sudah enggan karena belum terbiasa.

Mendengar komentar Hamzah yang akan membenci hari Jum’at itu kelak, saya tersenyum saja. Meski sebenarnya di dalam hati saya tidak suka. Maka mulailah saya memikirkan siasat.
“Apa Hamzah mau ke kantor Abi sendiri dan jum’atan di sana?” saya menanyainya. Hamzah 
bersemangat sekali mengiyakan. Tapi jujur saya ragu. Meski jalur transportasi ke kantor Abinya searah 
dengan tempat tinggal kami, tapi melepasnya sendiri sejauh 5 kiloan meter itu jelas bukan pilihan yang bijak.
“Hamzah jum’atan di mesjid dekat rumah saja ya?” saya menanyai pendapatnya. Sekarang mesjid sudah 
sangat dekat dengan rumah, semenjak kami memutuskan pindah kontrakan.
Tapi Hamzahku menolak. “Tidak mau Mi, Hamzah malu,” katanya.
Saya kembali membujuknya, “Ummi antarkan hingga ke dalam mesjid ya.” 
Hamzah tetap menggeleng. 
“Sayang, dengarkan Ummi. Hamzah sudah 8 tahun sekarang, sudah seharusnya belajar sholat jum’at, mumpung 
Ummi dan Abi masih hidup. Nanti kalau Ummi dan Abi sudah tidak ada lagi, siapa yang akan mengajari 
Hamzah?”
“Hamzah nanti bisa sendiri kok, Mi,” belanya.
“Hamzah yakin bisa sendiri? Yakin nanti akan bisa saja sendiri tanpa belajar membiasakan diri dari sekarang?”
Hamzahku terlihat bimbang.
“Tapi Ummi khawatir, sayang. Ummi khawatir Hamzah nanti malah terbiasa tidak sholat Jum’at. Alangkah 
sedihnya nanti Ummi dan Abi di dalam kubur karena anak lelakinya tidak mau sholat Jum’at. ALlah tidak 
suka lho anak lelaki yang tidak sholat Jum’at. Nanti di akhirat tempatnya di neraka. Hamzah mau begitu?” 
Berpanjang lebar saya berusaha mempengaruhi hati dan akalnya.
“Jadi kalau tidak sholat Jum’at itu bisa masuk neraka Mi,” Hamzah minta penegasan.
“Iya, itu bukan anak yang sholeh. Anak yang tidak sholeh tempatnya kelak di neraka.”
Alhamdulillah lelaki kecilku terpengaruh. Bersegera ia ke WC untuk buang air kecil dan kemudian berwudhuk. 
“Tidak usah diantar Mi, Hamzah bisa sendiri,” katanya.
Tapi saya bersikukuh mengantarkannya, meski mesjid dan rumah kami hanya dipisahkan oleh 2 rumah. Ada 
hal-hal yang membuat saya khawatir.

pertama, dulu ketika Abinya menjadi khotib jum’at di mesjid dekat rumah itu, Hamzah malah main di 
pekarangan mesjid bersama teman-teman sebayanya.

kedua, Hamzah sholat sendiri sekarang, maksud saya tanpa Abinya, jadi saya merasa perlu menunjukkan 
dimana dia harus duduk karena ia masih kecil.

ketiga, Hamzah ini sedikit aktif anaknya. Dan ada seorang tetangga yang juga rajin ke mesjid, dia bapak-
bapak, yang sangat tidak suka melihat anak-anak yang bermain-main di mesjid. Saya khawatir dia akan 
menegur Hamzah dengan keras, sehingga bisa jadi berakibat Hamzah mogok untuk jum’atan lagi. Sedikit
khawatir saja masalahnya, mengingat si bapak itu pernah menunjukkan rasa tidak sukanya melihat Hamzah
yang selalu riang gembira.

Maka ketika adzan akan berkumandang, saya segera mengantarnya dan mendudukkannya di shaf paling 
pinggir.
“Dengar sayang, tidak boleh mengobrol ketika khotib sudah naik mimbar ya, nanti sholatnya batal.” Bab 
ini sudah pernah saya bisiki dulunya ketika pertama kali ia bergabung dengan jama’ah sholat Jum’at. 
“Duduk di sini ya. Hamzah masih kecil jadi duduknya paling pinggir.” Hamzah mengangguk-angguk 
mengiyakan. 
“Dengar Nak, Ummi mau pulang, Ummi akan tunggu Hamzah di teras. Ummi tidak bisa mengawasi 
Hamzah, tapi jangan lupa ya ALlah selalu mengawasi kita.” Saya kecup keningnya dan berbalik pulang.
Sampai di sini pengawasan saya terbatas, tapi saya yakin ada ALlah yang selalu menjaganya.

Begitulah kisah sholat Jum’at pertama Hamzah tanpa Abinya. Berakhir dengan manis. Mudah-mudahan 
dikesempatan yang lainnya, ketika Abinya tidak bisa menemani, Hamzah tetap senang untuk pergi jum’atan
 sendiri. Semoga ya.

Tidak ada komentar: