“Nanti kalau sudah kelas 3, Hamzah akan benci hari Jum’at.”
Itulah celetukan lelaki kecilku ketika seorang ibu (orang tua murid
yang lain) menanyakan kenapa Hamzah belum jum’atan di sekolah. Jum’at itu saya
yang bertugas menjemputnya, meski sebenarnya Abinya di dalam kota. Tetapi karena
kedatangan Kepala Kantor Pusat, Abinya tidak bisa meninggalkan kantor seperti
biasa.
“Kenapa?” Saya penasaran dong, pengen mendengar jawabannya.
Meski sebenarnya saya sudah tahu apa jawabannya. Ternyata menurut Hamzah,
karena jum’atan di sekolah itu tidak asik, asiknya ikut jum’atan itu di kantor
Abi atau bersama Abi. Saya makin geli mendengarnya. Padahal setahu saya, Hamzah bersemangat ikut jum'atan di kantor Abi karena itu berarti habis jum'atan bisa bermain internet sepuasnya dengan sinyal inet yang lancar. Atau kalau tidak sholat di kantor, berarti sholat di mesjid dekat rumah. Itu artinya habis jum'atan bisa berkeliling-keliling dulu seputaran kompleks sebelum masuk ke rumah.
Lelaki kecilku ini baru Maret kemaren 8 tahun usianya. Meski begitu
saya ingin ia terbiasa melakukan jum’atan,
seperti halnya ia dibiasakan untuk
sholat 5 waktu. Sejujurnya tidak mudah bagi saya untuk membiasakannya.Alasannya :
pertama, karena Abinya jarang sekali bisa pulang ke rumah
untuk mengajak Hamzah jum’atan, sekalipun Beliau berada di dalam kota. Ketika
Beliau, si Abi, tugas ke luar kota atau masih di luar kota pas pada hari Jum’at, maka otomatis semakin tak mungkin untuk pulang ke rumah hanya demi mengajak Hamzah jum’atan.
kedua, karena Hamzah
satu-satunya anak lelaki saya, dan saya jauh di rantau orang, sehingga tidak
memungkinkan saya untuk menitipkannya kepada saudara ketika jam sholat Jum’at
agar ia pergi sholat.
Ditambah lagi, tetangga lelaki saya yang rata-rata bapak-bapak
usia lanjut, sangat tidak mungkin untuk
menitipkannya.
menitipkannya.
ketiga, karena saya termasuk ibu yang tidak suka
anak-anaknya berkeluyuran, meski itu hanya bermain di seputar komplek. Saya agak khawatir. Awal
masa menikah dan punya anak, saya berada di kota Pekanbaru. Suatu daerah yang
termasuk dalam angka penculikan yang cukup tinggi. Barangkali karena Pekanbaru
sangat dekat dengan Singapura dan Malaysia (Malaka). Kemudian, Pekanbaru juga termasuk
daerah dengan tingkat sodomi anak-anak lelaki yang cukup tinggi, meski itu
bersifat musiman. Bahkan dulu ketika Aisyah (kakak Hamzah) berusia 1 tahun, seorang
anak lelaki 8 tahun yang disuruh ibunya untuk membeli jeruk nipis ke warung,
tidak pernah pulang lagi ke rumahnya. Sekitar 6 bulan kemudian ditemukan
seonggok tengkorak di daerah Simpang Ardath dengan serpihan baju yang masih
bisa dikenali keluarganya. Dan keluarga anak lelaki itu tinggal bersebelahan
komplek dengan kontrakan saya kala itu. Saya jadi tidak tenang jika anak-anak saya bermain berkeliaran, meski itu di komplek perumahan.
Oleh karena itu, Hamzah jadi jarang saya lepaskan sendiri, ditambah lagi sekarang di sekitaran rumah kami tiada teman sebaya bagi Hamzah.
![]() |
| Lelaki kecilku, Hamzah (dok. pribadi) |
Begitulah, Hamzah akhirnya jadi enggan pergi sendiri ke
mesjid untuk sholat Jum’at jika Abinya tidak ada. Dengan alasan tidak ada teman.
Nah di sekolah Hamzah ini, anak-anak kelas 2 pulang pada
pukul 10 pagi saban Jum'atnya. Hanya anak-anak kelas 3 hingga 6 yang melakukan Jum’atan
di sekolah.
Dulu saya pernah menitipkannya pada ustadz di sekolahnya,
berhubung saya masih di sekolah di jam jum’atan itu. Tetapi Hamzah menangis
karena tidak nyaman sholat bersama kakak-kakak laki-laki di sekolah, dan merasa
belum kenal dengan semua ustadz di sekolah.
Demikianlah sehingga ketika Abinya tidak dinas ke luar kota,
saya meminta Beliau untuk menyempatkan menjemput Hamzah ke sekolah dan sekalian
mengajaknya jum’atan. Senyampang dia masih kecil ini. Saya khawatir jika kelak
di usianya yang saya percayakan untuk ke mesjid sendiri, justru di saat itu dia
sudah enggan karena belum terbiasa.
Mendengar komentar Hamzah yang akan membenci hari Jum’at itu
kelak, saya tersenyum saja. Meski sebenarnya di dalam hati saya tidak suka.
Maka mulailah saya memikirkan siasat.
“Apa Hamzah
mau ke kantor Abi sendiri dan jum’atan di sana?” saya menanyainya. Hamzah
bersemangat sekali mengiyakan. Tapi jujur saya ragu. Meski jalur transportasi
ke kantor Abinya searah
dengan tempat tinggal kami, tapi melepasnya sendiri
sejauh 5 kiloan meter itu jelas bukan pilihan yang bijak.
“Hamzah jum’atan
di mesjid dekat rumah saja ya?” saya menanyai pendapatnya. Sekarang mesjid
sudah
sangat dekat dengan rumah, semenjak kami memutuskan pindah kontrakan.
Tapi
Hamzahku menolak. “Tidak mau Mi, Hamzah malu,” katanya.
Saya kembali
membujuknya, “Ummi antarkan hingga ke dalam mesjid ya.”
Hamzah tetap
menggeleng.
“Sayang, dengarkan Ummi. Hamzah sudah 8 tahun sekarang, sudah
seharusnya belajar sholat jum’at, mumpung
Ummi dan Abi masih hidup. Nanti kalau
Ummi dan Abi sudah tidak ada lagi, siapa yang akan mengajari
Hamzah?”
“Hamzah
nanti bisa sendiri kok, Mi,” belanya.
“Hamzah
yakin bisa sendiri? Yakin nanti akan bisa saja sendiri tanpa belajar
membiasakan diri dari sekarang?”
Hamzahku
terlihat bimbang.
“Tapi Ummi
khawatir, sayang. Ummi khawatir Hamzah nanti malah terbiasa tidak sholat Jum’at.
Alangkah
sedihnya nanti Ummi dan Abi di dalam kubur karena anak lelakinya tidak
mau sholat Jum’at. ALlah tidak
suka lho anak lelaki yang tidak sholat Jum’at.
Nanti di akhirat tempatnya di neraka. Hamzah mau begitu?”
Berpanjang lebar saya
berusaha mempengaruhi hati dan akalnya.
“Jadi kalau
tidak sholat Jum’at itu bisa masuk neraka Mi,” Hamzah minta penegasan.
“Iya, itu
bukan anak yang sholeh. Anak yang tidak sholeh tempatnya kelak di neraka.”
Alhamdulillah
lelaki kecilku terpengaruh. Bersegera ia ke WC untuk buang air kecil dan
kemudian berwudhuk.
“Tidak usah diantar Mi, Hamzah bisa sendiri,” katanya.
Tapi saya
bersikukuh mengantarkannya, meski mesjid dan rumah kami hanya dipisahkan oleh 2
rumah. Ada
hal-hal yang membuat saya khawatir.
pertama,
dulu ketika Abinya menjadi khotib jum’at di mesjid dekat rumah itu, Hamzah
malah main di
pekarangan mesjid bersama teman-teman sebayanya.
kedua,
Hamzah sholat sendiri sekarang, maksud saya tanpa Abinya, jadi saya merasa
perlu menunjukkan
dimana dia harus duduk karena ia masih kecil.
ketiga,
Hamzah ini sedikit aktif anaknya. Dan ada seorang tetangga yang juga rajin ke
mesjid, dia bapak-
bapak, yang sangat tidak suka melihat anak-anak yang bermain-main
di mesjid. Saya khawatir dia akan
menegur Hamzah dengan keras, sehingga bisa
jadi berakibat Hamzah mogok untuk jum’atan lagi. Sedikit
khawatir saja masalahnya, mengingat si bapak itu pernah menunjukkan rasa tidak sukanya melihat Hamzah
yang selalu riang gembira.
khawatir saja masalahnya, mengingat si bapak itu pernah menunjukkan rasa tidak sukanya melihat Hamzah
yang selalu riang gembira.
Maka ketika
adzan akan berkumandang, saya segera mengantarnya dan mendudukkannya di shaf
paling
pinggir.
“Dengar
sayang, tidak boleh mengobrol ketika khotib sudah naik mimbar ya, nanti
sholatnya batal.” Bab
ini sudah pernah saya bisiki dulunya ketika pertama kali
ia bergabung dengan jama’ah sholat Jum’at.
“Duduk di sini ya. Hamzah masih
kecil jadi duduknya paling pinggir.” Hamzah mengangguk-angguk
mengiyakan.
“Dengar
Nak, Ummi mau pulang, Ummi akan tunggu Hamzah di teras. Ummi tidak bisa mengawasi
Hamzah, tapi jangan lupa ya ALlah selalu mengawasi kita.” Saya kecup keningnya
dan berbalik pulang.
Sampai di
sini pengawasan saya terbatas, tapi saya yakin ada ALlah yang selalu menjaganya.
Begitulah
kisah sholat Jum’at pertama Hamzah tanpa Abinya. Berakhir dengan manis.
Mudah-mudahan
dikesempatan yang lainnya, ketika Abinya tidak bisa menemani,
Hamzah tetap senang untuk pergi jum’atan
sendiri. Semoga ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar