“Rambut siapa tuh yang berserakan di kamar.
Apa rambut Ummi?” Fathimah-ku bertanya dengan huruf ‘r’ nya yang belum bersih.
Terang saja saya bingung, lha yang tadi main
di kamarnya bukannya dia, gadis kecilku itu? Saya kan sedang sibuk memasak. “Bukan
sayang, bukan rambut Ummi. Jangan-jangan itu rambut Fathimah. Ummi lagi masak
ini, belum masuk kamar.”
Gadis kecilku tersenyum manis dan berlalu,
kembali ke markasnya, bermain-main di kamar tidur kami (saya, abinya dan
Fathimah) sembari menonton film anak-anak di pagi hari.
Begitulah, setiap pagi menjelang
kakak-kakaknya (si Uni dan si Uda) pulang sekolah, Fathimah menghabiskan waktu
bermain sendiri. Tidak ada teman kecuali saya. Seringkali saya harus
menjalankan banyak kegiatan di setiap pagi, disambi dengan menjadi teman main
Fathimah.
Fathimah datang lagi menjenguk saya ke dapur
dengan senyum semanis madunya. Entah kenapa, sesuatu mendesak saya untuk segera
mengecek apa yang terjadi. Insting saja sebenarnya, kok saya curiga ya kalau
sudah terjadi sesuatu. Dari jarak 1,5 meter dari saya berdiri, Fathimah masih
saja senyum-senyum. Saya makin curiga. Sembari mencuci piring saya mencuri
pandang ke gadis kecil itu. Tidak ada yang aneh. Semua terlihat biasa. Karena
tak tahan menanggung curiga, akhirnya saya memutuskan menghentikan aktifitas
mencuci piring. Saya basuh tangan dengan mata tak lepas dari Fathimah yang
sedang asyik bermain. Langsung saya menuju kamar tidur saya yang kebetulan
TV-nya masih menyala, kamar yang tadi jadi tempat bermain Fathimah. Saya
menangkap sesuatu di lantai, saya pungut dan kening saya jadi bekernyit.
Segumpalan rambut yang halus, jelas itu bukan rambut saya. Jadi kalau bukan
rambut saya, berarti...
“Fathimaaahh..., Fath, ayo ke sini!” saya
memanggil gadis kecil 4 tahunan itu.
“Iya Mi, Amah datang,” Fathimahku menyahut
sembari berlenggak-lenggok ke kamar.
“Apa ini?”
“Heheh.” Fathimahku cengengesan. “Jangan marah
ya Mi. Nanti akan tumbuh lagi kok”, Fathimah menghibur saya.
Cepat kutangkap Fathimah, memeriksanya dengan
seksama, bagian mana yang sudah tak berambut. Ternyata sepertiga rambut kepala
bagian belakangnya sudah jatuh dengan tumpukan yang indah di karpet. Pun segera
mata saya menemukan sebuah gunting kecil. Saya ingat, semalam gunting itu dipakai
Aisyah – Uninya Fathimah, anak pertama saya- untuk persipan prakaryanya.
Ternyata Fathimah menemukannya. Dikarenakan kebosanan sendirian, maka Fathimah
berinisiatif memotong rambutnya.
Alhamdulillah, saya tetap bersyukur karena
tidak saya temukan sebuah lukapun di sekujur tubunya, meski itu hanya sebuah
goresan. Benar-benar sebuah keberuntungan menurut saya, mengingat rambut yang
plontos itu berada di bagian belakang kepalanya.
Segera saya giring Fathimah ke kamar mandi.
Dengan niat merapikan potongan rambut itu dan sekalian memandikannya. Biasanya
badan kan gatal-gatal tuh jika habis potong rambut tanpa pengaman. Tentu saja
sambil ‘menginterogasi’ Fathimah. Saya pengen tahu alasannya kenapa rambutnya
yang bagus itu dipotongnya.
“Kan kayak Ummi juga,” Fathimah berkilah.
Deg, saya kaget. Episode yang mana yah? Hadeh...saya jadi keder.
“Kan Ummi suka potong rambut Amah, juga rambut
Uda dan Uni.”
Oow...itu rupanya.
“Dengar ya Fath. Ummi potong rambut Fathimah,
juga Uni dan Uda, itu untuk merapikan. Bukan main-main. Coba lihat nih, rambut
belakangnya jadi jelek.”
“Iya, Amah kan lagi belajar,” Fathimahku tetap
membela dirinya.
“Sayang, gunting itu bukan mainan. Boleh pakai
gunting kalau ingin memotong kertas, minta kertasnya sama Ummi. Bukan untuk
potong rambut.”
“Jadi bukan pakai gunting itu.”
“Iya, guntingnya lain. Lagi pula Fathimah
belum boleh gunting rambut sendiri. Bisa-bisa kepalanya luka lho. Mau kepalanya
diperban?”
“Ndak mau.”
“Nah, lain kali kalau mau gunting rambut
bilang Ummi dulu ya. Biar Ummi yang guntingkan. Apa Fathimah mengerti?”
“Iya, Amah ngerti. Nanti Amah kalau mau potong
rambut Amah bilangkan Ummi.”
“Betul begitu. Diingat baik-baik ya.”
Begitulah, akhirnya rambutnya yang bagus itu
terlihat seperti anak punk. Saya hanya merapikan bagian yang dipotongnya
sendiri itu. Saya potong sependek-pendeknya dan serapi-rapinya. Dengan harapan
kelak jika rambut itu sudah tumbuh sampai panjang yang bisa menyesuaikan, baru
rambutnya yang tersisa (yang tidak terpotong oleh Fathimah) saya rapikan.
Tapi ternyata ada yang protes. Abinya Fathimah
yang sangat senang melihat rambut Fathimah yang cantik merasa terganggu
perasaannya. Beliau merasa terluka melihat Fathimah yang berambut ala anak
PUNK. Tadinya si Abi protes kenapa harus saya rapikan, sebaiknya dibiarkan saya
begitu pendapatnya. Tapi saya mana tahan melihat rambut ‘teman bermain’ saya
itu seperti sisa makanan tikus begitu. Tangan saya gatel ingin merapikannya.
Setelah sehari semalam menahan kesal akhirnya si Abi menurunkan mandat agar
rambut Fathimah diplontos saja.
Tidak memakan waktu lama, jadilah Fathimah
benar-benar plontos, hasil karya tangan saya sendiri. Pertamanya Fathimah tidak
sedih. Dia pikir dalam hitungan menit maka rambutnya akan panjang kembali.
Namun selesai mandi ternyata rambutnya tidak tumbuh 1 milipun. Fathimahpun
mengelus-ngelus kepala gundulnya. Lama-lama dia sedih dan bertanya kenapa
rambutnya tak tumbuh-tumbuh juga.
Tidak mudah saya rasakan untuk menerangkan
kenapa ini kepada si kecil itu. “Sabar sayang, nanti akan tumbuh lagi,
insyaaLlah.”
“Nantinya kapan? Amah jadi botak nih.” Duh...sedihnya. "Amah ingin cantik seperti Uni, Amah ndak mau keren seperti Uda."
"Kalau mau cantik seperti Uni, lain kali jangan di ulangi lagi ya. InsyaaLlah nanti rambutnya akan panjang lagi, Fathimah akan cantik seperti Uni."
Saya cengengesan melihat Fathimah manyun, hahaha kok kayak biksuni ya, owaik.
“InsyaaLlah nanti ketika Fathimah dah masuk
sekolah, rambutnya akan tumbuh sedikit. Lama-lama jadi banyak.”
Terlihat jelas Fathimah sungguh tak puas.
Namun apa hendak dikata, heheh...
“Lain kali jangan motong rambut sendiri lagi
ya, jadinya begini nih. Lama tumbuhnya.”
Setelah berhari-hari menunggu, yang menurut
Fathimah tentu saja itu lama sekali, akhirnya Fathimah mengambil kesimpulan.
“Sudahlah Mi, biarkan ajalah rambut Amah begini. Amah jadi botak.” Fathimahku
nelangsa. Benar-benar kasihan, tapi mau bagaimana lagi.
Syukurlah saya selalu membiasakan anak-anak
perempuan saya untuk memakai jilbab jika keluar rumah. Untuk Fathimah sendiri
baru sebatas (‘wajib’) memakai jilbab jika keluar dari pagar. Jadi Fathimah
tidak perlu mendapatkan reaksi yang berlebihan dari orang-orang tentang
rambutnya yang plontos. Saya pun tidak perlu menjawab apa dan kenapa.
Terlindung jilbab sih.
Namun ada tetangga yang sempat ke rumah ketika
Fathimah dalam kondisi seplontos-plontosnya. Yaitu dalam hitungan jam setelah
saya memangkas habis rambutnya. Kaget, protes dan bertanya kenapa, begitulah
reaksi si tamu. Terpaksa tuh Fathimah tak umpetin dulu beberapa hari hingga
kepalanya menghitam sedikit oleh rambut. Bukan apa-apa, cuma kasihan
Fathimahnya saja, enggak plontos saja dah jadi pusat perhatian orang apalagi
kalau plontos he...
Tapi satu hal, biarpun plontos Fathimahku
masih cantik. Aselinya memang cantik kali ya...(edisi Emak memuji, heheh...namanya juga anak
sendiri yah), mudah-mudahan bisa seperti namanya Fathimah Nurzkiyyah Muthi’ah,
aamiin.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar