Jumat, 12 Juli 2013

Plontos



“Rambut siapa tuh yang berserakan di kamar. Apa rambut Ummi?” Fathimah-ku bertanya dengan huruf ‘r’ nya yang belum bersih.
Terang saja saya bingung, lha yang tadi main di kamarnya bukannya dia, gadis kecilku itu? Saya kan sedang sibuk memasak. “Bukan sayang, bukan rambut Ummi. Jangan-jangan itu rambut Fathimah. Ummi lagi masak ini, belum masuk kamar.”

Gadis kecilku tersenyum manis dan berlalu, kembali ke markasnya, bermain-main di kamar tidur kami (saya, abinya dan Fathimah) sembari menonton film anak-anak di pagi hari.
Begitulah, setiap pagi menjelang kakak-kakaknya (si Uni dan si Uda) pulang sekolah, Fathimah menghabiskan waktu bermain sendiri. Tidak ada teman kecuali saya. Seringkali saya harus menjalankan banyak kegiatan di setiap pagi, disambi dengan menjadi teman main Fathimah.

Fathimah datang lagi menjenguk saya ke dapur dengan senyum semanis madunya. Entah kenapa, sesuatu mendesak saya untuk segera mengecek apa yang terjadi. Insting saja sebenarnya, kok saya curiga ya kalau sudah terjadi sesuatu. Dari jarak 1,5 meter dari saya berdiri, Fathimah masih saja senyum-senyum. Saya makin curiga. Sembari mencuci piring saya mencuri pandang ke gadis kecil itu. Tidak ada yang aneh. Semua terlihat biasa. Karena tak tahan menanggung curiga, akhirnya saya memutuskan menghentikan aktifitas mencuci piring. Saya basuh tangan dengan mata tak lepas dari Fathimah yang sedang asyik bermain. Langsung saya menuju kamar tidur saya yang kebetulan TV-nya masih menyala, kamar yang tadi jadi tempat bermain Fathimah. Saya menangkap sesuatu di lantai, saya pungut dan kening saya jadi bekernyit. Segumpalan rambut yang halus, jelas itu bukan rambut saya. Jadi kalau bukan rambut saya, berarti...      
                       
“Fathimaaahh..., Fath, ayo ke sini!” saya memanggil gadis kecil 4 tahunan itu.
“Iya Mi, Amah datang,” Fathimahku menyahut sembari berlenggak-lenggok ke kamar.
“Apa ini?”
“Heheh.” Fathimahku cengengesan. “Jangan marah ya Mi. Nanti akan tumbuh lagi kok”, Fathimah menghibur saya.
 
Fathimah, sebelum tragedi (dok.pribadi)
Cepat kutangkap Fathimah, memeriksanya dengan seksama, bagian mana yang sudah tak berambut. Ternyata sepertiga rambut kepala bagian belakangnya sudah jatuh dengan tumpukan yang indah di karpet. Pun segera mata saya menemukan sebuah gunting kecil. Saya ingat, semalam gunting itu dipakai Aisyah – Uninya Fathimah, anak pertama saya- untuk persipan prakaryanya. Ternyata Fathimah menemukannya. Dikarenakan kebosanan sendirian, maka Fathimah berinisiatif memotong rambutnya. 

Alhamdulillah, saya tetap bersyukur karena tidak saya temukan sebuah lukapun di sekujur tubunya, meski itu hanya sebuah goresan. Benar-benar sebuah keberuntungan menurut saya, mengingat rambut yang plontos itu berada di bagian belakang kepalanya.
Segera saya giring Fathimah ke kamar mandi. Dengan niat merapikan potongan rambut itu dan sekalian memandikannya. Biasanya badan kan gatal-gatal tuh jika habis potong rambut tanpa pengaman. Tentu saja sambil ‘menginterogasi’ Fathimah. Saya pengen tahu alasannya kenapa rambutnya yang bagus itu dipotongnya.

“Kan kayak Ummi juga,” Fathimah berkilah.
Deg, saya kaget. Episode yang mana yah? Hadeh...saya jadi keder.
“Kan Ummi suka potong rambut Amah, juga rambut Uda dan Uni.”
Oow...itu rupanya.
“Dengar ya Fath. Ummi potong rambut Fathimah, juga Uni dan Uda, itu untuk merapikan. Bukan main-main. Coba lihat nih, rambut belakangnya jadi jelek.”
“Iya, Amah kan lagi belajar,” Fathimahku tetap membela dirinya.
“Sayang, gunting itu bukan mainan. Boleh pakai gunting kalau ingin memotong kertas, minta kertasnya sama Ummi. Bukan untuk potong rambut.”
“Jadi bukan pakai gunting itu.”
“Iya, guntingnya lain. Lagi pula Fathimah belum boleh gunting rambut sendiri. Bisa-bisa kepalanya luka lho. Mau kepalanya diperban?”
“Ndak mau.”
“Nah, lain kali kalau mau gunting rambut bilang Ummi dulu ya. Biar Ummi yang guntingkan. Apa Fathimah mengerti?”
“Iya, Amah ngerti. Nanti Amah kalau mau potong rambut Amah bilangkan Ummi.”
“Betul begitu. Diingat baik-baik ya.”
 
Plontos, setelah eksekusi (dok.pribadi)
Begitulah, akhirnya rambutnya yang bagus itu terlihat seperti anak punk. Saya hanya merapikan bagian yang dipotongnya sendiri itu. Saya potong sependek-pendeknya dan serapi-rapinya. Dengan harapan kelak jika rambut itu sudah tumbuh sampai panjang yang bisa menyesuaikan, baru rambutnya yang tersisa (yang tidak terpotong oleh Fathimah) saya rapikan.

Tapi ternyata ada yang protes. Abinya Fathimah yang sangat senang melihat rambut Fathimah yang cantik merasa terganggu perasaannya. Beliau merasa terluka melihat Fathimah yang berambut ala anak PUNK. Tadinya si Abi protes kenapa harus saya rapikan, sebaiknya dibiarkan saya begitu pendapatnya. Tapi saya mana tahan melihat rambut ‘teman bermain’ saya itu seperti sisa makanan tikus begitu. Tangan saya gatel ingin merapikannya. Setelah sehari semalam menahan kesal akhirnya si Abi menurunkan mandat agar rambut Fathimah diplontos saja. 

Tidak memakan waktu lama, jadilah Fathimah benar-benar plontos, hasil karya tangan saya sendiri. Pertamanya Fathimah tidak sedih. Dia pikir dalam hitungan menit maka rambutnya akan panjang kembali. Namun selesai mandi ternyata rambutnya tidak tumbuh 1 milipun. Fathimahpun mengelus-ngelus kepala gundulnya. Lama-lama dia sedih dan bertanya kenapa rambutnya tak tumbuh-tumbuh juga. 

Tidak mudah saya rasakan untuk menerangkan kenapa ini kepada si kecil itu. “Sabar sayang, nanti akan tumbuh lagi, insyaaLlah.”
“Nantinya kapan? Amah jadi botak nih.” Duh...sedihnya. "Amah ingin cantik seperti Uni, Amah ndak mau keren seperti Uda." 
"Kalau mau cantik seperti Uni, lain kali jangan di ulangi lagi ya. InsyaaLlah nanti rambutnya akan panjang lagi, Fathimah akan cantik seperti Uni."
Saya cengengesan melihat Fathimah manyun, hahaha kok kayak biksuni ya, owaik.
“InsyaaLlah nanti ketika Fathimah dah masuk sekolah, rambutnya akan tumbuh sedikit. Lama-lama jadi banyak.”
Terlihat jelas Fathimah sungguh tak puas. Namun apa hendak dikata, heheh...
“Lain kali jangan motong rambut sendiri lagi ya, jadinya begini nih. Lama tumbuhnya.”

Setelah berhari-hari menunggu, yang menurut Fathimah tentu saja itu lama sekali, akhirnya Fathimah mengambil kesimpulan. “Sudahlah Mi, biarkan ajalah rambut Amah begini. Amah jadi botak.” Fathimahku nelangsa. Benar-benar kasihan, tapi mau bagaimana lagi.

Syukurlah saya selalu membiasakan anak-anak perempuan saya untuk memakai jilbab jika keluar rumah. Untuk Fathimah sendiri baru sebatas (‘wajib’) memakai jilbab jika keluar dari pagar. Jadi Fathimah tidak perlu mendapatkan reaksi yang berlebihan dari orang-orang tentang rambutnya yang plontos. Saya pun tidak perlu menjawab apa dan kenapa. Terlindung jilbab sih.
Rambutku dah tumbuh (dok. pribadi)

Namun ada tetangga yang sempat ke rumah ketika Fathimah dalam kondisi seplontos-plontosnya. Yaitu dalam hitungan jam setelah saya memangkas habis rambutnya. Kaget, protes dan bertanya kenapa, begitulah reaksi si tamu. Terpaksa tuh Fathimah tak umpetin dulu beberapa hari hingga kepalanya menghitam sedikit oleh rambut. Bukan apa-apa, cuma kasihan Fathimahnya saja, enggak plontos saja dah jadi pusat perhatian orang apalagi kalau plontos he...

Tapi satu hal, biarpun plontos Fathimahku masih cantik. Aselinya memang cantik kali ya...(edisi Emak memuji, heheh...namanya juga anak sendiri yah), mudah-mudahan bisa seperti namanya Fathimah Nurzkiyyah Muthi’ah, aamiin.

Tidak ada komentar: