Jumat, 15 November 2013

Apa Ummi Mau Dikorbankan?

          Lebaran haji tahun ini adalah kali pertamanya Fathimah mengerti diajak melihat penyembelihan. Bukan apa-apa, kemaren itu lokasi penyembelihan sangat dekat dengan rumah. Dulu sih pernah diajak, tapi kala itu ia masih kecil banget, belum setahun umurnya.

"Kenapa mbek-nya dikolbankan, Babah? Amah  ndak mau ia disembelih, Amah sayang mbek," Fathimah menangis sedih ketika melihat kambing-kambing digorok lehernya.
Abinya (Fathimah memanggilnya Babah) menjelaskan, itulah yang disebut dengan peristiwa qurban. Kemudian dijelaskanlah bagaimana peristiwa itu terjadi, kisah Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Nabi Isma'il a.s., tentu saja dengan bahasa anak-anaknya. Alhamdulillah ini tidaklah terlalu sulit untuk menjelaskannya karena di sekolahnya (TK A) Fathimah juga sudah mendapatkan informasi dari ibu gurunya bahkan mereka dilibatkan dalam kegiatan manasik haji di sekolah.
Fathimah (kanan) dan temannya Nazwa (kiri) sehabis manasik haji
Fathimah (kanan) dan temannya Nazwa sehabis manasik haji

          Ternyata tontonan penyembelihan itu 'terekam baik' oleh Fathimah. Beberapa hari setelah peristiwa penyembelihan itu, Fathimah menanyakan sesuatu yang membuat saya terkejut. Ia ngin mempraktekkan penyembelihan juga.
"Apa Ummi mau dikolbankan?" tanyanya dengan lugunya. 
Saya terkejut, sungguh kaget. Sementara Fathimah tersenyum dengan senyum semanis madunya. Perlahan mata saya mengarah ke pisau yang sedang saya pegang, mengikuti arah mata Fathimah. AstaghfiruLlah al'azhiem, huff saya langsung deg-degan.
"Mau?" Fathimah menanyakan dengan tegas.
"Tidak sayang, bukan begitu pengorbanannya. Ummi tidak boleh dikorban, Uni, Uda dan Babah juga tidak boleh. Orang lain juga tidak boleh. Nanti orang bisa mati lho kalau disembelih. Dan itu berdosa, ALlah tidak suka. Amah mau ALlah tidak sayang lagi?" Saya mencoba mendekati hatinya. Sejujurnya saya ingin tahu lebih, apa yang ada dalam pikirannya.
"Tapi Mi, Nabi Iblahimkan mengolbankan anaknya," Fathimahku mencoba membela idenya.
Saya menarik nafas panjang kemudian menghembuskannya perlahan, mencoba mencari kalimat yang paling sederhana.
Saya jelaskan ke Fathimah, bahwa apa yang dilakukan Nabi Ibrahim a.s itu adalah atas perintah ALlah ta'ala, bukan atas kemauan dirinya. Lalu karena keredhaannya atas perintah ALlah ta'ala dan atas keikhlasan Nabi Isma'il a.s. menerima perintah itu, ALlah ta'ala mengganjarinya dengan menggantikan Isma'il dengan seekor qibas. Tentu saja saya memilih gaya bercerita, melibatkannya aktif dalam cerita itu, mencari kalimat yang paling sederhana, namun intinya saya sampaikan. Bahwa setelah peristiwa Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Isma'il a.s itu, tidak ada lagi perintah untuk menyembelih anak sendiri. Melainkan kita mengenang peristiwa itu dengan memotong hewan qurban setiap tahunnya. Bisa jadi itu sapi, kerbau, kambing, atau domba.
Fathimah mengangguk-angguk. Saya berharap mudah-mudahan ia mengerti. Namun sebagai jaga-jaga, saya tegaskan bahwa tidak boleh bermain pisau, itu adalah barang yang berbahaya, karena ia bisa membuat kita terluka atau melukai orang lain. Dan tentu saja setelah itu saya lebih memastikan bahwa pisau haruslah berada jauh dari jangkauan tangannya.

          Sebagai ibunya, karena Fathimah melihat peristiwa penyembelihan itu bersama Abinya, maka sayapun menginterogasi Abinya tentang apa penjelasan yang sudah disampaikannya ke Fathimah ketika si kecil ini melihat peristiwa itu. Saya ceritakan tentang kisah kami berdua.

          Ternyata setelah mendapat penjelasan, si gadis kecilku melakukan improvisasi. Saya memergokinya menggoroh lehernya sendiri dengan menggunakan tangannya, seakan-akan sedang menyembelih hewan kurban, sambil mengucapkan lantunan kalimat yang biasa dilantunkan ketika terjadi penyembelihan.
"ALlahu akbal ALlahu akbal, laa ilaaha illaLlahu ALlahu akbal, ALlahu akbal walilla ilhamd."
Fathimah mengulang-ngulang aktifitasnya itu dan kembali tersenyum semanis madu ketika saya memergokinya.

Alhamdulillah, Fathimah mendengarkan nasehatku, ia mengganti pisau dengan tangannya. Dan untuk itulah ia mendapatkan hadiah kecupan dan pelukan hangat. 
"Anak pinter, Fathimah Muthi'ah, pinternya..., tidak boleh pakai pisau ya!" Saya merengkuhnya.
"Iya Amah tahu, pisau itu berbahaya, iya kan, Mi? Nanti bisa mati."

Aduhai Fathimah-ku. Ya ALlah ya Rabbana, jagalah ia, bantulah aku menjaganya

Tidak ada komentar: