Saya sungguh tak menyangka akan bermasalah dengan si seribu ini, apalagi ini cuma masalah tua atau bukan. Tapi ternyata si seribu tua ini benar-benar membuat saya pusing.
Bagaimana tidak, saya kerepotan saban pagi dibikinnya. Harus mbongkar dompet untuk memeriksa apa masih ada seribu tua yang terselip.
Dulu ketika saya masih tinggal di daerah Krapyak, saya tak merasa pusing seperti ini. Karena saban hari jika ke sekolah anak-anak, saya pasti melewati pasar Karangayu. Ada bank di pinggir jalan itu. Saya menabung di sana. Makanya ketika saya nyetor uang, saya menyempatkan diri untuk menukarkan seratus ribuan saya dengan uang seribu kertas. Karena ini bukan bank tempat penukaran uang (BI), apalagi lokasinya disekitaran pasar, sudah bisa ditebak bukan, asal muasal uang seribuan kertas ini, dan bisa dibayangkan betapa lemah lunglainya uang itu.
Itulah uang yang disukai Fathimah, gadis kecilku yang tidak diizinkan sekolahnya untuk membawa uang saku ke sekolah.