Saya sungguh tak menyangka akan bermasalah dengan si seribu ini, apalagi ini cuma masalah tua atau bukan. Tapi ternyata si seribu tua ini benar-benar membuat saya pusing.
Bagaimana tidak, saya kerepotan saban pagi dibikinnya. Harus mbongkar dompet untuk memeriksa apa masih ada seribu tua yang terselip.
Dulu ketika saya masih tinggal di daerah Krapyak, saya tak merasa pusing seperti ini. Karena saban hari jika ke sekolah anak-anak, saya pasti melewati pasar Karangayu. Ada bank di pinggir jalan itu. Saya menabung di sana. Makanya ketika saya nyetor uang, saya menyempatkan diri untuk menukarkan seratus ribuan saya dengan uang seribu kertas. Karena ini bukan bank tempat penukaran uang (BI), apalagi lokasinya disekitaran pasar, sudah bisa ditebak bukan, asal muasal uang seribuan kertas ini, dan bisa dibayangkan betapa lemah lunglainya uang itu.
Itulah uang yang disukai Fathimah, gadis kecilku yang tidak diizinkan sekolahnya untuk membawa uang saku ke sekolah.
Pertamanya saya bisa menjelaskan ke Fathimah, bahwa ia tidak diijinkan membawa uang saku. Tapi kemudian ia mulai cemberut ketika melihat kakak-kakaknya, si Uni dan si Uda mendapat jatah uang saku harian.
"Amah mana? Amah juga mau?" begitu protesnya berulang-ulang.
Akhirnya sayapun memutuskan untuk memberinya uang saku, tapi tidak boleh jajan sendiri, tunggu Ummi atau Abi dulu (siapa yang hari itu berkesempatan menjemput), baru boleh jajan.
Fathimah mengangguk senang, namun kemudian ia tertegun melihat uang seribu yang masih segar, kenceng; uang baru. Saya sengaja memberinya uang baru agar tidak mudah sobek.
"Amah ndak mau yang itu, Amah mau seribu tua," Fathimahku menolak.
"Tidak punya sayang, Ummi ndak punya uang seribu tua," saya mencoba membujuknya. "Dengar ya, ini uang bagus, lihat nih, tidak mudah sobek, mudah dilipat, wangi lagi," saya menambahkan.
Tapi Fathimahku tetap menolak, ia mau uang seribu yang sudah lecek, yang sudah berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Entah kenapa, saya juga tidak mengerti.
Tapi Fathimahku tetap menolak, ia mau uang seribu yang sudah lecek, yang sudah berpindah dari satu tangan ke tangan lain. Entah kenapa, saya juga tidak mengerti.
"Uang ini lembut Ummi, lembut seperti Amah."
Wkwkwk...gadis kecilku ini, bener-bener deh, selalu percaya diri mengatakan dirinya cantik dan lembut. Aamiin...aamiin ya Rabb, mudah-mudahan benar-benar cantik dan lembut plus sholehah tentu saja ya.
Sejak hari itulah, saya selalu menyimpan uang seribu tua untuk bekal Fathimah ke sekolah. Padahal uang itu tidak dijajankannya, nanti jajannya pakai uang di dompet saya juga. Uang itu akan diserahkan ke ibu gurunya. Untuk membangun rumah di surga kata ibu gurunya.
Sekarang semenjak saya pindah rumah, tidak jauh dari sekolah, saya jarang melewati bank itu. Pernah saya menukarkan uang di bank yang bernama sama tapi lokasinya berbeda. Tellernya menawari saya uang seribu koin. Uang seribu kertas itu tidak keluar lagi katanya. Dan disekitaran bank itu tidak ada pasar, otomatis uang lecek-lecek itu tidak mampir ke sana.
Aduhai kemana saya hendak mencari uang seribu tua itu ya?
Pernah saya menukarkan ke koperasi sekolah anak-anak, tapi cuma dapat sedikit, hanya untuk beberapa hari. Aduh maaf, kami juga butuh uang kecil, begitu kata pegawainya.
Halah...halah, bagaimana ini?
Kalau keingetan ini saya suka tersenyum sendiri. Anak-anak saya yang lain tidak peduli itu uang apa, mau tua, mau muda, kalau dikasih uang saku ya diambil. Malah anak-anak senang kalau dikasih uang baru.
Saya juga begitu, tidak suka dengan uang tua. Sering saya menyetrika uang itu (keisengan banget nih ya) agar ia kembali segar. Bukan apa-apa, takut sobek aja soalnya. Beberapa seribuan saya pernah sobek, karena tidak langsung diselotip, hilang deh pasangannya. Akhirnya teronggok tidak berharga.
Tapi Fathimahku tidak, ia suka uang tua. Lembuut..., begitu katanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar