Anak itu ya, sesuatu banget yah..., bisa bikin Maknya ketawa ngakak, juga bisa bikin Maknya ngurut dada plus geleng-geleng kepala.
Kemaren itu Hamzah belajar outdoor, di Pantai Marina, dari pagi hingga pukul 1 siang. Pagi-paginya saya sudah keteteran karena bekal lauk untuk bekal makan siangnnya disana, yang harus dibawa dari pagi, habis dimakannya dengan si Uni, dijadiin snack sambil nonton TV.
Ternyata mereka bertiga bersekongkol, Fathimah menghabiskan cabenya, si Uni dan si Uda melahap ayamnya, tandas. Jadilah sepagi-paginya saya ngebut masak disambi ngurus anak 3, sendirian.
Eh pulang-pulangnya dari Marina, Hamzah menenteng kantong asoy (kresek), ternyata isinya umang-umang (kerang-kerang) cilik dalam jumlah yang sangat banyak. Katanya mau dipelihara.
Dan
inilah puncaknya. Menjelang tidur, Hamzah membuat 'pengakuan' dosa,
minta maaf karena telah lupa membawa pulang sepatunya. Katanya
tertinggal di Pantai Marina. Duh...gimana sih, umang-umang diselamatkan tapi
sepatu ditinggalkan, huu...Kemaren itu Hamzah belajar outdoor, di Pantai Marina, dari pagi hingga pukul 1 siang. Pagi-paginya saya sudah keteteran karena bekal lauk untuk bekal makan siangnnya disana, yang harus dibawa dari pagi, habis dimakannya dengan si Uni, dijadiin snack sambil nonton TV.
Ternyata mereka bertiga bersekongkol, Fathimah menghabiskan cabenya, si Uni dan si Uda melahap ayamnya, tandas. Jadilah sepagi-paginya saya ngebut masak disambi ngurus anak 3, sendirian.
Eh pulang-pulangnya dari Marina, Hamzah menenteng kantong asoy (kresek), ternyata isinya umang-umang (kerang-kerang) cilik dalam jumlah yang sangat banyak. Katanya mau dipelihara.
Dan sayapun tak bisa menghubungi ustadzahnya untuk bertanya, hp lowbatt akut-mati, charger masih ngumpet entah dimana.
Sepagi ini saya senang, ternyata sepatu telah diselamatkan ustadzahnya , tidak dibiarkan tertinggal di Marina, alhamdulillah. Terhindar deh dari penganggaran mendadak, membeli sepatu baru alhamdulillah, benar-benar sesuatu.
Siangnya di jam pulang sekolah, Hamzah berkabar dengan gembira, "Ummi...sepatu Hamzah dah ketemu."
Duh senengnya. Saya tersenyum, pura-pura kaget, padahal saya sudah tahu dari paginya. Paginya itu, setelah mengantarkan mereka ke sekolah, saya menghubungi ustadzahnya dan menanyakan soal sepatu. Sementara Hamzah sendiri terpaksa ke sekolah dengan sepatu sandalnya karena dia hanya punya satu sepatu.
| Hamzahku, lelaki kecilku yang sesuatu banget (dok. pribadi) |
"Ayo Ham, masukkan sepatu sandalnya itu ke dalam tas, nanti kelupaan, ntar hilang lho," saya mengingatkan Hamzah yang sedang kesenangan melihat sepatunya sudah ketemu.
Tapi yang namanya anak-anak ya, ia mengiyakan tapi tidak segera melakukan. Dan terulanglah kembali, sekarang sepatu sandalnya itulah yang tertinggal di sekolah.
Ya ampun, saya benar-benar menarik nafas dengan kuat dan dengan kekuatan yang tidak kalah hebat saya melepaskannya. Ihh...gemesnya...anak ini.
"Maaf Mi, Hamzah lupa lagi, sepatu sandalnya ketinggalan di aula tempat kita duduk-duduk tadi," Hamzah mengkeret melihatku yang yang menatapnya tanpa berkedip.
"Ummi bilang apa tadi sayang?" Saya mencoba meminta pertanggungjawabannya.
"Masukkan sepatu sandalnya Hamzah, kata Ummi, nanti kelupaan," Hamzah menjawab takut-takut.
"Lalu kenapa tidak dimasukkan segera?"
"Hamzah lupa Mi, Hamzah menghabiskan jajanan dulu, Hamzah pikir nanti saja. Maaf Mi, maaf ya..., Hamzah janji ndak ulang lagi."
Huff...baiklah dia mengakuinya, sudah melaporkannya dengan jujur dan sudah berjanji.
"Tapi ada hukumannya lo Ham, atas kelalaian Hamzah itu. Dihukum ya?"
Hamzah mengangguk mengiyakan. Maka jadilah sesore itu Hamzah bersegera mandi, sholat Ashar dan menghabiskan sorenya di dalam kamar.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar