Senin, 23 Desember 2013

Cemburu yang Bernilai Karena Hari Ibu dan Anak

Semenjak memasuki usia SD, anak sulungku Aisyah selalu dapat bisikan dari para gurunya untuk terlibat memperingati hari ibu. Selalu heboh persiapannya. Mulai dari bertanya apa itu hari ibu hingga hadiah apa yang akan diberikannya.
Saya sendiri tidak pernah menganjurkannya untuk memberi hadiah. Saya selalu bilang, menjadi anak yang sholehah, patuh dan rajin belajar adalah hadiah yang tak ternilai bagi saya.

Sejujurnya, hingga di usia saya sekarang, akan memasuki usia 38 tahun, saya tak mengerti apa esensi hari ibu, pun saya tak ingin mencari tahu.

Karena bagi saya, setiap hari adalah hari2 yang penuh perhatian ke pada orang tua, terkhususnya ibu yang saya panggil emak, karena beliaulah satu2nya yang saya miliki sekarang.
Dulu pun, ketika saya masih kecil, tatkala pertama ngeh dengan tanggal 22 Desember, saya tetap biasa2 saja dalam menjalaninya, secara di sekolah saya pun biasa2 saja, tiada bisik2 ini dan itu.

Kembali ke cerita tentang anak2ku, kalau saya perhatikan, semester ini tidaklah seheboh tahun lalu dalam membisiki hari ibu. Mungkin itu karena sulungku sudah kelas 6 sekarang, tambah lagi classmeeting mereka jauh lebih berisi ketimbang tahun kemaren.
Heningnya tanya dan persiapan baik dari sulungku Aisyah maupun anak tengahku Hamzah yang sudah kelas 3 SD, sempat membuatku berfikir, jangan2 nggak ada bisikan nih dari sekolah.
Dan sayapun juga cuek, karena saya memang tak terlalu paham.

Tapi ternyata, di tanggal 23 Desember saya dapat kejutan beruntun.
Pertamanya, pukul 2.45 siang saya menemukan sebuah amplop di dalam laptop saya. Amplop handmade dari kertas origami.
Semalam sebenarnya saya juga melihat amplop itu, namun karena si empunya menyembunyikannya jauh2 baik dari saya ataupun dari adik2nya, saya pun tidak terlalu mengindahkannya. Saya pikir itu privacynya.
SubhanaLlah, ternyata amplop itu peruntukan untuk saya. Ternyata sulungku sedang mencari timing yang pas untuk menyerahkannya. Berhubung saya tidur belakangan dan bangun duluan, sulungku memilih menyisipkanya di laptop ketika saya ambruk di pagi tanggal 23 Desember.
Di surat itu tertulis, 'Semoga Ummi cepat sembuh,' hiks...hiks saya jadi terharu. Kemudian, "Supaya kita bisa main lagi. Oh ya Ummi, sudah Uni pikirkan, Uni tidak mau masuk pesantren, masuk SMP biasa saja. Biar Uni bisa membantu Ummi di rumah.'
Saya benar2 terharu. Saya menghadiahinya pelukan, kecupan dan ucapan terima kasih secara terbuka di depan adik2nya, Hamzah dan Fathimah.
Ini sebenarnya bukan hadiah pertama untuk saya. Selalu saja setiap hari ibu ada hadiah kecil dari anak2, entah itu dari Aisyah atau Hamzah, atau bahkan kreasi kerja samanya.

Tahun lalu mereka berdua bekerja sama membuat tulisan 'I love You Ummi' dari kerang2 di atas karpet rumah. Pernah juga kertas2 origaminya ditulisi dan digambari sesuatu yang menyatakan betapa mereka berdua mencintai saya, ibunya.
Meski masih ikut2an, tapi Hamzah tetap berpartisipasi maksimal.
Terkecuali tahun ini, entah kenapa, mungkin dia lupa karena classmeetingnya sekarang lumayan membuatnya sibuk.

Kedua, sepulang jalan2 malam ini, sebelum tidur, si gadis kecilku Fathimah tiba2 juga menyodorkan sebuah hadiah. "Ini dali Amah," begitu katanya ketika menyerahkan tumpukan kertas yang tak bisa disebut amplop.
Inikah jawaban heranku tadi?

Tadi itu, ketika Aisyah mendapatkan pelukan, kecupan dan ucapan terima kasih, memang Fathimah sedikit cemberut dan bertanya amplop apa itu. Penjelasan singkatku membuatnya sibuk mencari2 gunting, kertas dan lem. Saya sempat melihatnya bernegosiasi dengan Uninya -Aisyah- tentang berapa lembar kertas origami yang boleh dipakainya.
Pekerjaannya sedikit tertunda karena bakda maghrib kami memutuskan untuk jalan2 sejenak bersama2. Namun sepulangnya, Fath kembali serius dengan proyeknya. Begitu saya selesai memasang kain hordeng yang ketarik hingga copot oleh anak2, Fath sudah menuggu dengan amplop ciptaannya.

"Apa ini?"
"Ini untuk Ummi, ini dali Amah."
Saya tersenyum dan berfikir cepat. "Apa ini hadiah untuk Ummi?"
"Benal, ini hadiah untuk hali ibu dan anak," jawabnya dengan lugunya.
Saya memperhatikan tumpukan2 kertas yang telah dilem itu. Lem-nya masih terasa basah. Ada tulisan huruf2 yang tak bermakna di atasnya. Saya yakin, Fathimah telah mencoba mengukir namanya di situ, dan telah mencoba menulis surat untuk saya seperti yang telah dilakukan Uninya.
"Tulisan apa ini, sayang?"
"Ini tulisan selamat hali ibu dan anak, dali Amah, itu lo Mi."
"Oh..."

Saya kembali terharu. Saya hadiahi pula ia pelukan, kecupan dan ucapan terima kasih, secara atraktif di depan kedua kakaknya.

Tiba2..., sesuatu menyela, "Maaf ya, Mi, Hamzah nggak ngasih apa2." Hamzah mendatangiku dengan ucapan maafnya.
"Nggak apa2, Ummi senang kok. Jadilah anak yang sholeh, itulah hadiah untuk Ummi."
"Sini Mi." Hamzah menarik saya hingga saya tertunduk. Lelaki kecil itu menghadiahi saya pelukan, kecupan di setiap sudut wajah saya dengan kecupan yang berlimpah2 dan beruntun.

Saya senang sekali, kawan.
Ternyata kado Aisyah memicu adik2nya untuk juga memberikan kado. Kecemburuan yang benar2 saya hargai, karena ini adalah cemburu yang bernilai. Saya senang mereka tak mau kalah dalam hal ini dan karena kadonya disesuaikan dengan kemampuannya masing2.
Alhamdulillah.








Tidak ada komentar: