Minggu, 14 Desember 2014

Sinyal Pertanda Sudah Siap Tampil Beda

Bahagia itu..., sederhana.
Belakangan ini saya memang tak mau memaksakan diri dalam banyak hal. Belakangan ini karena hal-hal sepele saya sering merasakan fisik agak drop. Akibatnya? Human error! Hamzah mau sekolah tapi celananya belum dicuci. Alamak...
Sebenarnya dari semalam saya sudah menyadarinya. Tapi saya lemes dan males melemparnya ke mesin cuci.
Hohoho...karena melemparnya bukan perkara sepele bagi saya. Ada rangkaian menyortir jenis pakaian, mengucek-ngucek yang kotor banget dulu dengan air bersih, ngisi bak mesin, masukin deterjen, kemudian baru deh muter, mbuang air, ngisi lagi terus begitu berulang-ulang sampai di rasa bersih.

"Uda Hamzah, kalau besok pakai celana yang lain bagaimana?"
"Ummi sakit lagi, ya?"
"Hm..."
"Gak apa-apa, Mi, teman-teman Uda juga banyak yang begitu."

Alhamdulillah. 
Meski bersyukur setelah perbincangan sebelum tidur itu hati saya tetap agak cemas. Tak apalah, jika ia besok berubah pikiran masih ada celananya yang sudah sangat lama dengan sedikit bolongan di lututnya. Biasanya ia mau memakai itu.
Saya cemas karena selama ini si uda adalah anak yang tak 'siap' tampil beda di sekolahnya, bahkan ia tak mau berbeda pendapat dengan gurunya. Sesuatu telah terjadi dan sepertinya ia trauma.
Jika tetap dipaksa untuk tampil 'beda' maka ia akan sesegukan menangis; rasa nyamannya terganggu.
Uff...anakku. Tak kupungkiri di titik ini aku sungguh merasa iba padanya. Apa salahnya sih sesekali tampil beda? 

Paginya, di pagi ini.
"Uda mau pakai celana yang mana, Mi?"
"Uda mau yang mana, yang ini atau yang ini?" Saya menyodorkan 2 pilihan, dua-duanya hitam, satu agak di atas mata kaki yang satunya lagi di bawah mata kaki.
Si Udaku mengambil yang di atas mata kaki. Celana hitam, bukan biru seperti biasanya ia ke sekolah.
"Benar tak apa, sayang?"
"Tak apa, Mi."
Aku bahagia mendengar kalimatnya itu.

Kawan, bahagia itu di sini di relung hatiku yang paling dalam kemudian ia mengalirkan pesan ke seluruh tubuhku; I'm happy! Si uda kecilku sudah berani tampil 'beda'. Ternyata bahagia itu sederhana, ya.

*** 
Saya berfikir bahwa sesuatu yang selalu seragam atau selalu tampil seragam tak akan selalu berefek baik. Bagi anak-anak yang memang berbakat melanggar peraturan mungkin sesuatu yang dipaksakan seragam padanya akan membuatnya berfikir bagaimana caranya agar peraturan itu bisa dilanggar. Si anak akan mencari celah-celah sempit agar ia bisa (sesekali/ sesering yang ia mau) untuk menunjukkan pembangkangannya.
Sementara bagi anak-anak yang berbakat patuh, selalu seragam sangat cocok untuknya. Dadanya akan berdebar dengan tingkat kecemasan tinggi andai ia harus berbeda/ tidak seragam dengan yang lainnya.
Dan itulah yang terjadi pada Hamzah, si anak lelakiku.

Saya tentu saja tak ingin jika ia menjadi anak pemberontak, tapi menjadikannya siap untuk berbeda pada waktu-waktu tertentu, tentu sangat saya harapkan.
Karena kelak tak akan semua yang terjadi harus diamini anak. Anak dari sekarang harus belajar menolak dan menurut saya itu harus diawali dengan siap tampil berbeda dari yang biasa.
Dan kondisi darurat meski itu karena human error adalah timing yang pas untuk mendidiknya.

Tidak ada komentar: