Minggu, 14 Desember 2014

Kreatif Mengisi Waktu

Bahagia itu.., sederhana.

Aku ini si emak yang sedang tadabburan Al-Qur'an di lepi. Gadis kecilku yang masih TK B sedang di rumah, ogah ke sekolah.
Dia berusaha mencuri perhatianku. "Bentar ya, sayang, bentar lagi."
Kemudian ia berlalu dan asyik dengan sesuatu.
Waktu berlalu, belajarku selesai dan ia pun menyetorkan hasil belajarnya.

Ternyata ia telah asyik mengutak-atik koran dan membuat topi ulang tahun berbentuk kerucut. Kuat dan kokoh karena juga dikasih lakban hitam olehnya. Lengkap dengan jumbai-jumbainya.
Agar topi itu terlihat berisi dan tidak ringan ketika ditaroh di kepala ia telah mengisinya dengan tissue.
Sejujurnya itu topi yang bagus. Karena kemudian topi itu juga bisa menjadi wadah mainan kecilnya ketika dibalikan. Seperti wadah kerucut ketika kita membeli kacang rebus.
Aku bangga melihat hasil kerjanya. Aku bahagia melihat kreatifitasnya.

Topi itu 'sangat' bagus karena ternyata ia juga berasal dari bahan yang bagus yaitu koran pagi yang belum tuntas ku baca dan tissue yang masih baru. Sejatinya tuh tissue untuk melap mulut dan tangannya kalau kotor, tapi ia telah memanfaatkannya untuk yang lain.
Kawan, bahagia itu benar-benar sederhana. 'Sesederhana' aku yang sedang berusaha keras untuk bisa merelakan koran baru dan tissue bagus.
'Sesederhana' aku yang berusaha pasrah melihat potongan-potongan kertas yang tersenyum manis padaku.
***
Sebagai manusia biasa sebenarnya agak sulit bagi saya untuk menerima ini sebagai sesuatu yang sederhana. Ini jelas-jelas tidak sederhana. 
Ini jelas bukan hanya soal koran yang belum sempat dibaca tuntas juga bukan soal tissue bagus. Sampahnya itulah yang paling sulit. Setiap kreatifitasnya pasti meninggalkan bekas. Saya memang selalu mengajarinya untuk membereskan kembali pekerjaannya. Namun yang namanya anak, ya, dan masih kecil pula, serapi-rapinya pekerjaannya tentu jauh dari kata sempurna.
Terkadang saya mengeluh juga ke abinya. "Abi lihat nih rumah, rapih kan? Tapi coba sebentar lagi begitu anak-anak sudah pulang sekolah, besepah semuanya."
"Terus Ummi maunya apa?" Suamiku bertanya sambil tersenyum. "Jika anak-anak di rumah mereka duduk terus dengan manis, begitu? Rumah benar-benar bisa rapih, lho."
Jelas bukan itu yang saya mau. Tetapi memang selalu ada timbal baliknya, kan? Berharap anak-anak kreatif dan rumah tetap rapi sempurna adalah hal yang sulit terwujud terlebih lagi buat kami yang sudah memutuskan untuk tidak mempekerjakan pembantu rumah tangga, terlebih lagi karena mereka sedang masa tumbuh kembang.

Setiap ingat pembicaraan itulah saya menjadi agak lebih rileks jika anak-anak berkreatifitas, bukankah aku harus belajar dan berusaha pasrah dengan menyederhanakan keadaan?


Tidak ada komentar: