Selasa, 18 Juni 2013

Segelas Teh Hangat : Mengobati Rindu, Memecah Beku



         Sudah lama saya ingin bercerita tentang teh ini, tapi selalu tak ada momen. Begitu ada momen di SariWangi, maka saya coba untuk menceritakannya. Heheh...sayang sekali, entah salahnya dimana, entah saya kurang mengerti, beberapa kalimat terakhir saya hilang di pos yang saya kirimkan ke http://mari-bicara.com/momen/segelas-teh-hangat-mengobati-rindu-memecah-beku.html .
Di bawah ini saya copaskan utuh dari dokumen saya, dan inilah cerita utuhnya. Selamat menikmati semoga bermanfaat.



 ***

          Saya ini termasuk maniak teh sejak kecil. Entah kenapa, semenjak dulu saya agak susah meneguk air putih. Pertama karena aroma air tanah itu terlalu terasa. Benar, kala itu kami mengkonsumsi air tanah yang diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa air dragon. Kemudian ketika PAM mulai merakyat, lidah saya terlalu sensitif terhadap aroma kaporit yang menurut saya lumayan menyengat. Maka jadilah semenjak kecil itu saya sudah terbiasa mencemplungkan beberapa sendok teh tubruk ke ceret air yang masih panas. Padahal itu satu-satunya ceret yang kami miliki. Saya tetap nekat melakukannya meski dengan resiko dikejar-kejar oleh kakak sulung saya yang marah karena hasil kerjanya saya campuri dengan teh. Bukan teh manis, tapi teh tanpa gula.

         
          Bertambahnya usia, saya masuk universitas, jauh dari keluarga, saya mulai kreatif menambahkan beberapa sendok gula, jadilah minuman teh manis. Itulah kali pertama saya kenal teh celup bermerk SariWangi. Hm...benar-benar wangi hingga kecanduan saya bertambah. Tak cukup secangkir sehari, bahkan saya sudah dopping teh. Lelah kuliah, satu gelas teh manis hangat mengembalikan energi saya. Berlanjut terus hingga saya menikah. Hingga suami saya tahu bahwa teh adalah satu-satunya minuman favorit saya. Jadilah segelas teh hangat bikinan suami untuk saya sebagai ucapan terima kasihnya karena sudah saya bikinkan minuman. Segelas teh manis hangat bikinan suami untuk saya di hari liburnya.

          Kecanduan akan teh berbuah jelek untuk saya. Saya lebih butuh teh ketimbang air putih. Akhirnya saya harus mengelola candu ini ketika di ginjal kanan saya ditemukan 0,8 mm batu. Sejak saat itu suami saya berubah cerewet jika melihat saya mulai menyeduh teh. “Jangan lupa air putihnya”, suami saya mengingatkan. “Minimal jumlah air putihnya 2x volume teh yang Ummi minum”, tambahnya. Saya terhenyak. Bukan apa-apa, kadang kegilaan teh ini membuat saya menyeduh teh 0,5 lt hanya untuk saya. Itu berarti air putih yang harus saya teguk setelah minum teh adalah 1lt. Tapi dasar maniak, saya menyanggupinya demi hasrat dan demi ginjal saya. Bahkan suami saya sudah menghasut anak-anak agar ikut-ikutan mengontrol saya. Mereka berubah menjadi spionase ketika suami saya tak ada.

          Ada hikmahnya juga ternyata. Seperti rumah tangga biasa, kadang kami bertengkar. Dan saya  biasanya menyatakan perang dingin, diam seribu bahasa, berhari-hari lamanya. Saya yang memulai perang dingin, tapi saya enggan memulai bicara, padahal saya kangen, hiks.  Maka saya sengaja bikin minuman teh hanya demi dikomentari suami. Meski saya cuekin, tapi suami tetap menasehati dengan tatapan sayangnya setiap kali saya menyeduh teh dihadapannya. Yee...perang dingin berakhir, kami baikan lagi.

          Momen-momen seperti itu saya kenang terus, apalagi ketika suami harus dinas ke luar kota. Saya menyeduh teh sambil membayangkan komentarnya. Saya semakin rindu tatkala kami harus terpisah kota sementara saya masih merajuk karena jengkel. Saya menikmati saat anak-anak mencereweti saya, dan mengingatkan akan ginjal saya yang butuh air putih. Saya membayangkan bahwa mereka adalah wakil suami untuk menjaga saya. Jika saya meminum teh di tengah malam, di ujung waktu setelah mengurus anak dan rumah, saya meminum air putih 2x volume teh yang saya minum, untuk suami dan untuk ginjal saya. Hm...kangen saya terobati. Bahkan jika saya kangen dikomentaripun, segelas teh hangat solusinya.


 ***

Tidak ada komentar: