Sudah lama saya ingin bercerita tentang teh ini, tapi selalu tak ada momen. Begitu ada momen di SariWangi, maka saya coba untuk menceritakannya. Heheh...sayang sekali, entah salahnya dimana, entah saya kurang mengerti, beberapa kalimat terakhir saya hilang di pos yang saya kirimkan ke http://mari-bicara.com/momen/segelas-teh-hangat-mengobati-rindu-memecah-beku.html .
Di bawah ini saya copaskan utuh dari dokumen saya, dan inilah cerita utuhnya. Selamat menikmati semoga bermanfaat.
***
Saya ini
termasuk maniak teh sejak kecil. Entah kenapa, semenjak dulu saya agak susah
meneguk air putih. Pertama karena aroma air tanah itu terlalu terasa. Benar,
kala itu kami mengkonsumsi air tanah yang diangkat ke permukaan dengan
menggunakan pompa air dragon. Kemudian ketika PAM mulai merakyat, lidah saya
terlalu sensitif terhadap aroma kaporit yang menurut saya lumayan menyengat.
Maka jadilah semenjak kecil itu saya sudah terbiasa mencemplungkan beberapa
sendok teh tubruk ke ceret air yang masih panas. Padahal itu satu-satunya ceret
yang kami miliki. Saya tetap nekat melakukannya meski dengan resiko
dikejar-kejar oleh kakak sulung saya yang marah karena hasil kerjanya saya
campuri dengan teh. Bukan teh manis, tapi teh tanpa gula.
Kecanduan
akan teh berbuah jelek untuk saya. Saya lebih butuh teh ketimbang air putih.
Akhirnya saya harus mengelola candu ini ketika di ginjal kanan saya ditemukan
0,8 mm batu. Sejak saat itu suami saya berubah cerewet jika melihat saya mulai
menyeduh teh. “Jangan lupa air putihnya”, suami saya mengingatkan. “Minimal
jumlah air putihnya 2x volume teh yang Ummi minum”, tambahnya. Saya terhenyak.
Bukan apa-apa, kadang kegilaan teh ini membuat saya menyeduh teh 0,5 lt hanya
untuk saya. Itu berarti air putih yang harus saya teguk setelah minum teh
adalah 1lt. Tapi dasar maniak, saya menyanggupinya demi hasrat dan demi ginjal
saya. Bahkan suami saya sudah menghasut anak-anak agar ikut-ikutan mengontrol
saya. Mereka berubah menjadi spionase ketika suami saya tak ada.
Ada hikmahnya
juga ternyata. Seperti rumah tangga biasa, kadang kami bertengkar. Dan saya biasanya menyatakan perang dingin, diam seribu
bahasa, berhari-hari lamanya. Saya yang memulai perang dingin, tapi saya enggan
memulai bicara, padahal saya kangen, hiks. Maka saya sengaja bikin minuman teh hanya demi
dikomentari suami. Meski saya cuekin, tapi suami tetap menasehati dengan tatapan
sayangnya setiap kali saya menyeduh teh dihadapannya. Yee...perang dingin
berakhir, kami baikan lagi.
Momen-momen
seperti itu saya kenang terus, apalagi ketika suami harus dinas ke luar kota.
Saya menyeduh teh sambil membayangkan komentarnya. Saya semakin rindu tatkala
kami harus terpisah kota sementara saya masih merajuk karena jengkel. Saya
menikmati saat anak-anak mencereweti saya, dan mengingatkan akan ginjal saya
yang butuh air putih. Saya membayangkan bahwa mereka adalah wakil suami untuk
menjaga saya. Jika saya meminum teh di tengah malam, di ujung waktu setelah
mengurus anak dan rumah, saya meminum air putih 2x volume teh yang saya minum,
untuk suami dan untuk ginjal saya. Hm...kangen saya terobati. Bahkan jika saya
kangen dikomentaripun, segelas teh hangat solusinya.
***

Tidak ada komentar:
Posting Komentar