Fath kecilku sama seperti kakak-kakaknya , suka meniru,
bertanya dan berkomentar seusai dengan nalarnya. Saya memang membiasakan menanyai anak-anak tentang pendapat mereka terhadap sesuatu dan memberi mereka
ruang berkreasi. Menurut saya itu penting, karena akan memicu analisis,
kepedulian dan juga aktifitasnya. Sekalipun begitu tak jarang saya tetap
terkejut-kejut menghadapi tingkah mereka.
Suatu ketika saya pernah menemukan Fath bergelantungan di
kain jendela hordeng kamar. Tentu saya agak khawatir, mana kuat hordeng itu
menahan berat tubuhnya, belum lagi tangannya kan belum begitu kuat, masih 2
tahun dia kala itu. Saya hampiri dan bertanya, "Dek Fath lagi ngapain,
hati-hati...nanti bisa jatuh lho."
"Ini Mi, lagi menilu Jiego," jawabnya. "Ayun-ayun di pohon."
"Ini Mi, lagi menilu Jiego," jawabnya. "Ayun-ayun di pohon."
Saya senang Fathimah bukan sekedar menonton, tapi belajar
dari tontonannya. Inilah kisah proses belajar naik turun tangga yang
terinspirasi dari salah episode Dora the Explorer, di usia 2 tahunannya.
Suatu ketika saya memergokinya nekat naik tangga, padahal
tangga itu sangat tidak aman untuk batita. Selama ini Fath selalu minta gendong
setiap kali saya naik tangga untuk menjemur cucian. Tidak pernah sendiri,
kalaupun pernah baru separuh jalan Fath sudah menjerit2 minta tolong.
Tapi pada suatu ketika tiba-tiba Fath sudah ada di anak
tangga bawah tanpa ditemani siapa-siapa. Saya intip dari jarak dekat sebagai
antisipasi bahaya. Coba lihat, kedua tangannya terangkat tinggi ke atas,
kemudian turun dan memegang anak tangga. Dengarlah celotehannya, "Angkat
tanganmu tingi, letakkan sini dan panjat...panjat....panjat." Saya terkesima,
ternyata Fath kecilku sedang belajar.
Berkali-kali kata-kata panjat itu diulang-ulangnya. Hingga sampailah ia di
puncak tangga, dan bercelotehlah ia "alhamdulilah, Ummi...Amah bica."
Sayapun takjub dan senang, Fath kecil yang memanggil dirinya Amah, bahagia
dengan usahanya..
Turunnya bagaimana? Ya sudah, itu artinya saya harus naik dan
menjemputnya.
Kemudian kejadian ini berulang-ulang, bisa naik tapi tak bisa
turun. Pernah suatu kali saya benar-benar capek. Kami sepanjang pagi hingga
siang pukul 15.00 hanya berdua saja di rumah. Abinya bekerja dan kedua kakaknya
sekolah. Naik turun tangga yang curam dikontrakan kami bukanlah perkara
mudah,ditambah lagi saya sedikit bermasalah di lutut. Kemudian saya
bilang,"Ini terakhir lho Fath...Ummi benar-benar lelah."
Lihatlah Fath kecilku mengangguk dan tersenyum. Saya
membawanya ke ruangan lain dan kami berbaring di sana.
Barangkali saya sempat
terlelap hingga saya mendengar suara menjerit-jerit. Ya ALlah, Fath kecilku
menangis di puncak tangga minta diturunkan. Huff...lutut saya benar-benar
sakit, dan ini sudah menurunkan yang ke sekian.
Saya berdiri di anak dan
bilang, "Kenapa naik lagi, Ummikan dah larang. Ayo turun pelan-pelan, Ummi
tunggu di sini." Fath-nya ogah, malah maksa saya naik. Aduh...bagaimana
ini, saya pernah tidak bisa turun karena tiba-tiba lutut saya tidak bisa
ditekuk.
Baiklah, ini akan jadi pelajaran untuk Fath agar belajar
mendengarkan Ummi bicara. Lagi pula kalau dia sudah bisa naik dan biasa,
insyaaLlah tidak susah untuk turun.
"Ayo sini sayang, Ummi tunggu." Saya membujuknya,
berulang kali. Akhirnya saya berpindah tempat menjauh setelah mengatakan
,"Fath bisa naik sendirikan.? Sekarang belajar untuk turun sendiri
ya."
Sejujurnya saya tidak tega, tapi mau bagaimana lagi. Sesekali
pelajaran perlu ditingkatkan. Saya berbalik pergi dengan telinga terpasang
sempurna dalam kondisi siap siaga.
Terdengar sedu sedannya, dan saya mengintip dengan sudut
mata. SubhanaLlah, Fath kecilku belajar turun dengan merayap mundur, seperti
pasukan paskibra. Saya lega dan kembali memejamkan mata, menunggu reaksi
selanjutnya. Benar saja, tiba-tiba ada yang memukuli punggung saya. Ada dua tangan kecil,
sambil berteriak-teriak, "Ummi jaat, Ummi jaat Amah, huhu....huhu..."
Saya biarkan sampai dia lelah, kemudian baru merengkuhnya.
Dan membisikkan kata-kata menenangkan tangisnya.
Alhamdulillah sejak saat itu Fath sepertinya tahu sesuatu.
Ada larangan berarti ada konsekwensinya. Tentu dengan pemahaman anak kecilnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar