Besok anak2 UAS. Mapelnya PKn dan Bahasa Arab. Meski saya tidak memaksa mereka untuk ambisius, dapat ponten bagus, namun membiasakan mereka mempersiapkan diri secara maksimal adalah prioritas saya.
Ini bukan masalah akan jadi dapat rangking atau tidak, tapi ini masalah pembiasan hal yang baik untuk mereka yaitu mempersiapkan diri secara maksimal dalam menghadapi sesuatu apapun. Sejauh ini saya tetap memahami bahwa hasil belajar yang sesungguhnya itu adalah belajar menjalani proses.
Ayo persiapkan diri!! Itulah intinya, masalah hasil itu urutan kesekian.
Ini bukan masalah akan jadi dapat rangking atau tidak, tapi ini masalah pembiasan hal yang baik untuk mereka yaitu mempersiapkan diri secara maksimal dalam menghadapi sesuatu apapun. Sejauh ini saya tetap memahami bahwa hasil belajar yang sesungguhnya itu adalah belajar menjalani proses.
Ayo persiapkan diri!! Itulah intinya, masalah hasil itu urutan kesekian.
Dan lihatlah, tadi itu Aisyah ketahuan diam2 baca Harry Potter. What?? Besok UAS lho...Tapi gadisku tak marah ketika saya menyita buku bacaannya. Lalu ia sibuk beberes2 buku, bukannya belajar. Hadeh...sekali lagi saya harus mengingatkannya. Meski intonasi suara saya mulai naik, namun saya tidak benar2 bertanduk.
Gimana mau marah coba, saya dulu juga begitu, bukannya sibuk belajar, eh malah asyik beberes kamar. Namun sebagai Emak, saya tetap harus mengingatkannya toh? Ayo belajar, nanti menyesal lho...
Barulah kemudian gadisku berkutat dengan kertas soal2 bahasa Arab yang dibagikan dari sekolah, itu lho kertas soal anak tahun kemaren.
Tapi kemudian dia membuat pengakuan dosa, lupa meminta soal PKn. Ihh...gimana sih, ujiannya kan besok. Lagi, sebagai Mak dakupun kembali memberinya wejangan; ceramah singkat.
Lain pula dengan Hamzah, ia mengisi jawaban essay berstruktur dari soalan yang dibagikan sekolah dengan jawaban ENTAH. Semua essay dijawabnya entah. "Habis Hamzah malas menulisnya, Mi, banyak jawabannya," begitu kilahnya ketika saya tanya kenapa.
Jadilah saya sedikit memaksanya untuk menuliskan jawabannya. Bukan apa2, menyelesaikan soal2 adalah bagian belajar bagi saya. Nggak apa2 deh kalau malas baca buku cetak, jawab saja soal2an. Hehe...padahal sama saja toh, kalau terbentur kan bakalan baca buku juga.
Begitu tuh kalau ngadalin Emakmu, Nak. Kadal kok dikadalin.
Namun sesuatu kutemukan ketika menemani Hamzah belajar. Sekarang bacaannya jauh lebih bagus.
Hamzah ini bacaannya terkadang kurang jelas, terkadang beberapa huruf tertentu hilang entah kemana. Saya tidak menyesalinya. Kakak laki2 saya juga begitu, ipar saya juga ada yang sedikit gagap. Meski Hamzah tak gagap, tapi memang agak kurang jelas ucapannya pada kata2 tertentu. Genetik, begitu saya menghibur diri agar perasaan saya tidak menekan kepada Hamzah.
Namun tentu saja saya tetap melatihnya.
Huruf2nya juga begitu ketika ia menulis. Seringkali beberapa huruf hilang, padahal kata yang dimaksudnya sama dengan kata yang saya maksudkan. Nggak apa2, ini hanya karena kurang latihan, kembali saya menghibur diri.
Itu artinya Hamzah butuh exercise lebih.
Selalu saja hingga detik ini ketika menyimaknya membaca atau memperhatikannya menulis, saya selalu berucap dalam hati, alhamdulillah lelaki kecilku akhirnya bisa membaca dan menulis.
Sesuatu banget deh kegiatan hari ini, diselingi oleh rengekan Fathimah yang merasa terabaikan dan akhirnya tertidur dengan pulas di rumah kardusnya, heheh...gadis kecilku yang beberapa kali menjawab dengan benar soal2an Hamzah, padahal asal jawab aja tuh.
Saya senang,,, akhirnya mereka berangkat tidur setelah maksimal mempersiapkan diri. Semoga sukses ya, Nak. Berusahalah menjadi yang terbaik.
Barulah kemudian gadisku berkutat dengan kertas soal2 bahasa Arab yang dibagikan dari sekolah, itu lho kertas soal anak tahun kemaren.
Tapi kemudian dia membuat pengakuan dosa, lupa meminta soal PKn. Ihh...gimana sih, ujiannya kan besok. Lagi, sebagai Mak dakupun kembali memberinya wejangan; ceramah singkat.
Lain pula dengan Hamzah, ia mengisi jawaban essay berstruktur dari soalan yang dibagikan sekolah dengan jawaban ENTAH. Semua essay dijawabnya entah. "Habis Hamzah malas menulisnya, Mi, banyak jawabannya," begitu kilahnya ketika saya tanya kenapa.
Jadilah saya sedikit memaksanya untuk menuliskan jawabannya. Bukan apa2, menyelesaikan soal2 adalah bagian belajar bagi saya. Nggak apa2 deh kalau malas baca buku cetak, jawab saja soal2an. Hehe...padahal sama saja toh, kalau terbentur kan bakalan baca buku juga.
Begitu tuh kalau ngadalin Emakmu, Nak. Kadal kok dikadalin.
Namun sesuatu kutemukan ketika menemani Hamzah belajar. Sekarang bacaannya jauh lebih bagus.
Hamzah ini bacaannya terkadang kurang jelas, terkadang beberapa huruf tertentu hilang entah kemana. Saya tidak menyesalinya. Kakak laki2 saya juga begitu, ipar saya juga ada yang sedikit gagap. Meski Hamzah tak gagap, tapi memang agak kurang jelas ucapannya pada kata2 tertentu. Genetik, begitu saya menghibur diri agar perasaan saya tidak menekan kepada Hamzah.
Namun tentu saja saya tetap melatihnya.
Huruf2nya juga begitu ketika ia menulis. Seringkali beberapa huruf hilang, padahal kata yang dimaksudnya sama dengan kata yang saya maksudkan. Nggak apa2, ini hanya karena kurang latihan, kembali saya menghibur diri.
Itu artinya Hamzah butuh exercise lebih.
Selalu saja hingga detik ini ketika menyimaknya membaca atau memperhatikannya menulis, saya selalu berucap dalam hati, alhamdulillah lelaki kecilku akhirnya bisa membaca dan menulis.
Sesuatu banget deh kegiatan hari ini, diselingi oleh rengekan Fathimah yang merasa terabaikan dan akhirnya tertidur dengan pulas di rumah kardusnya, heheh...gadis kecilku yang beberapa kali menjawab dengan benar soal2an Hamzah, padahal asal jawab aja tuh.
Saya senang,,, akhirnya mereka berangkat tidur setelah maksimal mempersiapkan diri. Semoga sukses ya, Nak. Berusahalah menjadi yang terbaik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar