Rabu, 11 Desember 2013

Bagaimana Caranya Sperma Bisa Sampai ke Sel Telur?

Seperti biasanya ketika kami (saya dan ketiga anak-anak saya) ngumpul sambil bercerita, selalu ada saja pertanyaan yang harus saya pending jawabannya. Bukan apa-apa, usia anak-anak ini bertikai 'lumayan' jauh untuk sebuah penjelasan serius.

Anak-anakku, si Uda Hamzah, si Uni Aisyah dan si Adek Fathimah

Gadisku, si Uni Aisyah per November kemaren genap 11 tahun, kelas VI SD, sedang masa tumbuh kembang menjadi seorang 'gadis remaja'. Meski ia belum haid, saya kok sedikit 'curiga' bahwa ia mulai 'ngeh' dengan jenis kelaminnya. 
Lelaki kecilku si Uda Hamzah per Maret tahun depan insyaaLlah akan 9 tahun, sekarang kelas III SD. Meski ia suka bertanya ini dan itu tapi pada dasarnya ia masih 'sangat' lugu. Ketertarikannya pada lawan jenis dan bentuk tubuh mereka sejauh ini hanya sebatas pemenuhan sifat ingin tahunya, bukan karena sesuatu yang bersifat nafsu.
Namun pada dasarnya, sebenarnya saya tidak keberatan memberikan uraian/ penjelasan tentang sesuatu yang bersifat sex education kepada mereka berdua secara bersamaan.
Masalahnya adalah si gadis kecil, si Adek Fathimah yang per Mei kemaren baru 4 tahun, sekarang masih di TK A, yang selalu bergabung dalam diskusi kami. Masalah yang paling pokok adalah karena ia tidak bisa untuk tidak terlibat aktif dalam setiap kegiatan, entah itu dengan sikap dan kelakuannya, entah itu dengan celotehnya. Dimana ujung-ujungnya sesuatu hal serius yang kami bicarakan, entah itu perbaikan akhlak/sikap, entah itu cara bertutur dsb menjadi guyonan gara-gara 'ikut campurnya'.
Seringkali saya tepok jidat jika Fathimah sudah nimbrung. Suka salah sambung namun percaya diri, halah...halah.


Hari ini sepulang sekolah seusai sholat zhuhur saya berkumpul dengan anak-anak. Saya menceramahi si Uni yang tidak memotong pendek kukunya, yang tidak menyisir rapi rambut panjangnya. Sambil memotongkan kuku dan menyisirkan rambutnya, anak-anak saling bercerita dan meminta 'persetujuan' saya atas cerita-cerita masa kecil mereka.
Hingga sampailah cerita ketika si Uni dan si Uda berebut-rebut tangan saya sebelum tidur.

"Uni dulu kalau mau tidur selalu pengen memegang tangan kanan Ummi ya Mi, padahal Uni tidurnya di sebelah kiri," ujar Aisyah.
"Uda juga tuh, selalu ingin pegang tangan Ummi yang lain," Hamzah menimpali.

Saya tersenyum. Saya memang sering menceritakan hal-hal kecil yang biasa mereka lakukan di masa yang sudah lampau terutama jika si Uni sudah mulai cemburu terhadap adik-adiknya. Hal yang sama saya lakukan ketika si Uda mulai cemburu pada si kecil Fath.

"Amah dimana? Amah kok nggak pegang tangan Ummi." Fathimahku seperti biasa selalu protes jika cerita yang sedang dibahas itu adalah masa-masa dia belum melihat dunia. Sejujurnya ia tidak terima jika dikatakan bahwa kala itu ia belum lahir. 
"Amah waktu itu sembunyi di belakang punggung Ummi kan?" Rajuknya ketika melihat foto-foto kakak-kakaknya tanpa dia. Ia akan menangis sesegukan bersedih hati jika tanpa perasaan kakak-kakaknya mengatakan bahwa ia tidak ada kala itu, ia belum lahir.

Pun ketika cerita -pegang-pegang tangan Ummi sebelum tidur ini- berlangsung, ia mulai cemberut. Sekali dua kali melihat adiknya sesegukan, si Uni yang mulai pintar mengasuh adik ini memberikan hujjahnya. Hujjah yang membuat saya terpelongo.

"Amah waktu itu masih sama ALlah," bujuk si Uni. Saya tersenyum saja. Kejadian yang mereka ceritakan itu memang terjadi ketika anak saya masih dua.

"Kok bisa Amah sama ALlah. Amah ini sama Ummi, tau!!! Amah keluar masuk perut Ummi." Fathimahku mulai meradang.

Meledak tawa si Uni dan si Uda. Fathimah masih jengkel dan menoleh ke saya untuk minta dukungan.

Tapi keburu si Uni menyela, "waktu itu sperma dan sel telur untuk Fathimah belum ketemu, iya kan Mi."

Jujur saja, saya kaget dan ingin tahu sejauh mana pengetahuan anak sulungku tentang sperma dan sel telur ini. Tapi saya kalah sigap, si Uda buru-buru menyela, "apa itu sprema?"

"Sperma itu yang membuahi sel telur. Jadi kalau sel telur dibuahi ia akan menjadi anak," si Uni menjelaskan dengan lugas tanpa sedikitpun saya lihat wajah malu-malu apalagi ragu-ragu di wajahnya, padahal ini di depan Emaknya loh.

"Jadi waktu itu sperma Fathimah belum ketemu sama sel telurnya ya," Hamzah minta penjelasan lebih. 

"Bukan Ham," lagi-lagi saya kalah sigap. "Bukan sperma Fathimah, tapi sperma Abi yang membuahi sel telur Ummi. Sperma itu berlomba-lomba, dan yang menang itu cuma satu. Itulah kenapa sebenarnya kita ini hebat, karena kita ini adalah hasil dari sperma yang bisa menjadi juara."

"Ooo...jadi begitu ya, jadi sperma itu berlomba-lomba ya Ni," si Uda Hamzahku mengangguk, entah mengerti entah tidak.

Separoh terpelongo, separoh kaget, separuh takjub plus separoh nyaris semaput saya mendengar penjelasan itu. Sedangkan Fathimah sendiri juga 'khusyuk' mendengarkan diskusi yang tidak memberi saya waktu untuk menyela.

"Jadi waktu itu sperma yang akan menjadi Fathimah belum membuahi sel telur, makanya Fathimah masih sama ALlah," urai si Uni. "Nah kalau sudah dibuahi baru deh Fathimah ada di perut Ummi kemudian dilahirkan," hiburnya kepada Fathimah yang masih khusyuk.

Sepertinya Fathimah cukup terhibur dengan bujukan itu. Terbukti ia tak lagi merajuk, malah ia bangga bahwa ia ada di perut Ummi dan dilahirkan oleh Ummi.
"Tapi nanti Amah lahirkan kan, Ni," tegasnya.

"Iyalah, kan sudah lahir, sudah jadi adek Uni sekarang." Mereka bertiga tersenyum dengan cerita yang 'happy ending' itu.

Tapi saya justru sedang menggarisbawahi, PR penjelasan tentang reproduksi manusia kepada gadisku yang mulai remaja. Belum lagi saya sempat menyimpulkan secara 'sederhana' tentang kasus ini, lagi-lagi si Uni Aisyah 'mengganggu' saya dengan tanyanya.

"Cuman yang Uni bingung itu ya Mi, bagaimana caranya sehingga sperma bisa membuahi sel telur itu. Kan spermanya punya Abi, sel telurnya punya Ummi, kok bisa ketemu, bingung Uni, Mi."

Pada posisi ini saya benar-benar butuh oksigen dan air putih, kehabisan nafas dan kehausan, asli.
"O ya, Uni sudah belajar tentang reproduksi ini di sekolah ya? Tentang reproduksi hewan, tumbuhan dan manusia."
Gadisku menggangguk mengiyakan.
"Jadi yang bilang bahwa sperma yang bisa membuahi itu adalah sprema juara, siapa."
"Guru Uni di sekolah," jawabnya.
"Oh...guru sainsnya siapa ya?" Asli ini adalah modus pengalihan fokus mengingat tak mungkin saya menjelaskan cara bertemunya sperma dan sel telur di depan si Uda dan Fathimah. Padahal saya dah tahu siapa guru sainsnya. Bukan kali ini saja Aisyah berdiskusi se'kelas' ini. Saya tak tahu sejauh mana gurunya menjelaskan, entah gurunya memang menjelaskan sedetil itu entah anakku yang berimprovisai karena ingin tahunya yang cukup besar."

"Gurunya Pak E**, Mi. Pak E** bilang begitu."

"Lalu kenapa Uni tidak tanya ke beliau bagaimana caranya sperma dan sel telur bertemu?"

"Bingung Uni bagaimana caranya bertanya itu. Malu Uni, Mi."

Saya tersenyum, bisa membayangkan kondisinya. Di satu sisi bisa jadi sebenarnya gadisku sudah 'mulai' tahu, mengingat perkembangan teman sekelasnya yang bahkan sudah ada yang haid waktu kelas 4 lalu dan mengingat beberapa perlakuan yang diterimanya dari teman-temannya itu.
Di satu sisi, gadisku memang sedikit pemalu, bahkan mungkin terkesan kurang percaya diri di dalam kelasnya. Hingga ia berfikir bahwa bertanya ke Ummi tentu lebih aman tanpa merasa perlu malu dan diolok-olok.

"Nanti Ummi jelaskan ya Ni, insyaaLlah. Jangan sekarang ya, ada adik-adik di sini." Itulah jawaban sementara yang saya sampaikan dengan suara sayup-sayup sampai mengingat baik si Uda Hamzah atau si Adek Fathimah masih serius mengikuti perbincangan 'berkelas' ini.

Tidak ada komentar: