Jumat, 13 Desember 2013

Jika Uni Jadi Pemimpin RS

Tadi siang sepulang sekolah menjelang zuhur waktu semarang kami terhenti sejenak setelah sukses menyebrang di perempatan. Sebuah ambulance dari arah RS Kariadi lewat lengkap dengan raungannya.
Anak2 bertanya, apakah itu orang sakit? Saya jawab, belum tentu, bisa jadi yang dibawa itu adalah jenazah. Kemudian si Uda dan Fathimah kembali tertawa melanjutkan perjalanan, tetapi si Uni-ku mencoba meminta penjelasan lebih.
Saya jelaskanlah bahwa 'sangat jarang' di Indonesia ini orang sakit dijemput dengan ambulance, sejujurnya dalam hati saya malahan tidak yakin akan kata 'sangat jarang' itu, saya lebih yakin jika kata itu diganti dengan 'TAK MUNGKIN.'

Alasannya jelas, memperhatikan kejadian disekitaran saya bahwa ambulance hanya akan 'bergerak aktif' jika itu membawa jenazah dari RS atau pindah dari satu RS ke RS rujukan. Itupun berprosedur dan berbayar.
Padahal ambulance tadi itu kan dari RSUP, jadi kecil kemungkinan merujuk ke RS yang lebih 'kecil.'
"Uni pernah dengar kalimat ini, 'orang miskin dilarang sakit?' Kira2 menurut Uni itu kenapa?"
"Iya ya Mi, karena biaya berobat mahal, sementara orang sakit tidak punya uang untuk itu."
"Jadi apa mungkin menurut Uni ambulance akan sesegera mungkin menjemput orang miskin sakit dari rumah mereka untuk diantar ke RS?"
Si Uni-ku menjawab, tidak. "Kecuali kalau orang2 kaya yang menelpon ya Mi," tambahnya.

Saya memancing logika dan analisisnya dan ia menjelaskan bahwa kalau kita sakit maka kitalah yang harus ke rumah sakit mungkin dengan ojek atau naik angkot. Katanya nih, hanya orang2 kaya yang ke RS naik mobil pribadi. Padahal jangankan untuk berobat, untuk membayar ojek/angkot saja seringkali orang miskin itu tidak punya uang. Sementara ambulance mana mau datang untuk orang miskin, kan datangnya pakai biaya. Kalaupun kepepet butuh, si Uni-ku meyakini bahwa akan banyak alasan RS untuk tidak mengirimkan ambulance-nya, lagi repotlah, lagi banyak pekerjaanlah, tidak ada driverlah. =D
"Nah itulah salah satu alasannya orang miskin di larang sakit, karena jika mereka sakit maka sudah bisa dipastikan mereka akan semakin sengsara," saya mengunci analisisnya.
"Jangan lupa, ini di Indonesia bukan seperti di film bule yang sempat Uni tonton," saya menambahkan.
Si Uni-ku mengangguk2 paham.

"Maka dari itu sayang, jika kelak Uni menjadi pemimpin, jadilah pemimpin yang menyejahterakan rakyat, bukan pemimpin yang menyengsarakan. Kesejahteraan untuk rakyat itu bisa berasal dari kebijakan2 ataupun peraturan2 yang dibuat pemimpin," ujar saya. Saya yang tak ingin kehilangan momen memanfaatkan momen ini untuk membentuk karakter kepeduliannya, bahwa seorang pemimpin haruslah peduli.
"Ingat baik2 nasehat Ummi ini jika kelak Uni jadi pemimpin ya," saya mengingatkannya.

"Tapi Mi, Uni pikir tidak harus jadi pemimpin dulu untuk bisa memberikan layanan ambulance untuk orang miskin."
Ow...ternyata si Uni-ku masih fokus ke soal ambulance tadi. "Kenapa?", saya memancingnya.
"Uni pikir jika Uni jadi pemimpin di RS mungkin Uni akan mengambil kebijakan untuk meringankan beban orang miskin, jadi tidak perlu memimpin Indonesia dulu baru bisa meringankan orang miskin."

Yes!!! Meski secara body daku tenang2 saja, tapi hatiku menghangat, jantung memompa darah ke seluruh tubuh dengan bersemangat. Jika kala itu ada cermin, saya sangat yakin bahwa pipiku memerah saking bahagianya.
Ini bukan karena si Uni-ku yang sangat keukeh dengan cita2nya untuk menjadi guru SD selama ini berubah haluan untuk mencoba melirik andai kelak memimpin RS, tapi karena analisis kepeduliannya yang bernas itu.
Coba mengertilah kawan, Emak mana yang tidak bahagia?

Ummi tak peduli engkau akan jadi apa kelak, Nak, tidak ada request Ummi untuk ini dan itu selain jadilah sholehah, tetaplah di jalan ALlah, raihlah husnus khotimah.
Jika kelak engkau jadi guru, jadilah guru yang sholehah.
Jikapun kelak engkau memilih merintis jalan untuk memimpin RS, maka jadilah perintis yang sholehah, jika sampai menjadi pemimpin maka jadilah pemimpin yang sholehah.
Jika engkau jadi anak, jadilah anak yang sholehah.
Jika kelak menjadi seorang istri maka jadilah istri yang sholehah.
Jika kelak menjadi seorang ibu, jadilah ibu yang sholehah.
Menjadi apapun itu, menjadi sholehah adalah yang utama.

Tidak ada komentar: