Minggu, 13 April 2014

Oom Polisinya Belum Senior

Ini cerita tentang pencoblosan caleg kemaren itu di tanggal 9 April. Kami memboyong ke tiga anak-anak kami. Yah semacam pembelajaran jugalah buat mereka.
Kami sholat Zhuhur dulu di rumah karena saya dan suami tidak mendapatkan surat undangan. Jadi kami datang ke TPS hanya dengan KTP.

Sesampai di sana kami harus menunggu karena ketua KPPSnya sedang pergi sholat. Sementara anggotanya tidak berani mengambil keputusan apakah kami boleh mencoblos atau tidak. Alhamdulillah salah seorang anggota KPPSnya berbaik hati memberikan kami kursi untuk duduk. 
Tiba-tiba Fathimah si kecil kami yang belum 5 tahun memeluk Abinya erat-erat.
"Kenapa Dek?"
"Amah malu." Sembari matanya melirik-lirik pak polisi yang duduk di pintu keluar. Ia sedang asyik dengan gadgetnya.
"Kok malu, itukan Oom Polisi. Lupa ya kisah Fathimah di kantor polisi waktu kita di kampung?" Saya mencoba mengingatkannya.
"Tapi pak polisi yang ini belum senior, Mi."
Mendengar jawaban Fathimah, si Uni dan si Uda tertawa terbahak-bahak.
"Udah gede lo Fath oom polisinya." Si Uni Aisyah menjelaskan sambil terkikik-kikik.
"Udah senior itu Fath. Lihat tuh badannya besar." Si Abi menimpali sambil senyum-senyum.

Saat itu saya berharap agar pak polisinya tidak tersinggung, ya. Jangan marah gitu ketika dibilangin belum senior oleh Fathimah.
Alhamdulillah ternyata pak polisinya nggak marah. Dia malah terseyum salah tingkah karena kami berlima menjadikannya objek obrolan sembari menunggu ketua KPPSnya datang.

PXP, Penantian Panjang Lelaki Kecilku

Bolehlah ku katakan ini adalah sebuah penantian panjang, bahkan saangat panjang. 
Coba bayangkan, dari umur 2 tahunan lelaki kecilku ini tertarik dengan games PXP dsj karena melihat abang-abang sepupunya yang bersitungkin dengan PxPnya. Dan ia merengek meminta seperti punya abang-abangnya. Tapi yang saya suguhkan kepadanya hanya segala macam CD dan DVD yang beraroma ilmu pengetahuan dan pendidikan, seperti Bobby Bola dan Akal Interaktif.

Untuk sementara keinginannya bisa diredam. 
Pertama, kami kala itu berdomisili jauh dari abang-abang sepupunya. Pertemuan Hamzah lelaki kecilku dengan para abang hanya ketika kami membawanya pulang kampung kala lebaran.

Minggu, 30 Maret 2014

ALlah Di Langit

Sebenarnya Fathimahku bukan gadis kecil yang penakut, hanya saja terkadang dia terpengaruh oleh gaya kedua kakaknya, si Uni dan si Uda. Sehingga kadang-kadang dia jadi 'sok' imut begitu, hehehe.

Sudah cukup sering saya melihat Fathimah berkeliaran di rumah ini sendirian saja. Tapi begitu diingatkan oleh kakak-kakaknya tentang suasana gelap dan menakutkan, Fathimah jadi ogah melanjutkan aktifitasnya, maunya di temani.

Malam ini saya dapat kisah. Fathimahku berceloteh tentangALlah ketika dia bilang dia merasa takut.
"Tidak perlu takut sayang, selalu ada ALlah yang menjaga. ALlah selalu melihat, jadi gak usah takut ya," begitu saya membujuknya.

Jumat, 24 Januari 2014

Perbedaan dan Pertengkaran

"Perbedaan tidak mesti memancing pertengkaran. "


"Apakah perbedaan itu selalu menimbulkan pertengkaran, Mi?" lelaki kecilku bertanya dengan lugu. 

Saya jelaskan bahwa tak selalu perbedaan itu menimbulkan pertengkaran, tergantung bagaimana orang menyikapi perbedaan itu. Seringkali bahkan perbedaan itu membuat kita menjadi akrab, berteman dengan baik.
Tapi saya penasaran, apa ya defenisi perbedaan di mata lelaki kecilku itu? 
Ini nih titik lemah emak2 yang penasaran. Ada apa?

Kamis, 16 Januari 2014

AMd = Ahmad Madura

Saya jelaskan ya, ini bukan menjelek2kan gelar akademis seseorang. Tapi dalam perjalanan kehidupan saya ini, seringkali saya menemukan gelar2 akademis yang dipelesetkan. Entah itu untuk guyonan, entah memang itu untuk ejekan, dan segala macam alasan lainnya.
Tapi yang dilakukan anak saya ini benar2 sebuah spontanitas karena ketidaktahuannya.


Pagi itu ketika saya memintanya untuk membuka gembok pagar, lelaki kecilku, si Uda Hamzah, memberikan hiburan pagi.
Setelah membuka gembok, ia keluar pagar lengkap dengan pakaian seragam sekolahnya plus dengan tas dipunggung. Tiba2 ia berseru, "coba lihat, ada 'orang yang dipakukan' ke pohon kayu!"

Walau Terlihat Kecil Tapi Tak Ada yang Sia2

 "Bukankah besar dan kecil itu tergantung bagaimana kita memandangnya?"
Gadisku sudah 11 tahun, sudah pasti dah bisa membaca dong? Alhamdulillah.
Tapi saya tidak pernah menolak ketika ia meminta saya untuk membacakan buku, kecuali untuk alasan2 yang urgen tentu saja.

Kami juga rutin ke tokbuk sebulan sekali dan ia juga boleh membaca pulang buku cerita seperti adik2nya, ia tetap punya hak untuk itu.
P
ada hari2 libur sekolah seperti Jumat sore, Sabtu dan Minggu, saya juga membiarkannya membaca sepuasnya buku yang ia inginkan meski itu sedang musim ujian. Saya anggap itu bagian dari refreshing.
Gadisku, Aisyah
Dan saya juga tidak marah dan menyuruhnya membaca sendiri atau belajar ketika ia bergabung dengan 2 adiknya tatkala saya membacakan cerita untuknya.

Sabtu, 04 Januari 2014

Jackpot : Coretan Gadisku

 Anak sholehah itu tidak dilihat dari merk bajunya, tetapi dilihat dari akhlaknya yang terpuji, (belajar) menutup auratnya, (belajar) bersyukur dan (belajar) hidup sederhana.


Membongkar2 buku2 lama dan membaca2 coretannya adalah salah satu kebiasaan saya. Meski tak selalu namun tak jarang saya menemukan surprise, entah itu uang yang keselip, entah itu catatan yang mengharubiru, entah itu coretan2 yang menambah ilmu, bahkan tak jarang coretan2 kecil di masa lalu yang membuat pipi saya bersemu.
Apapun yang saya temukan, sejauh ini saya menganggapnya jackpot.