Jumat, 15 November 2013

Apa Ummi Mau Dikorbankan?

          Lebaran haji tahun ini adalah kali pertamanya Fathimah mengerti diajak melihat penyembelihan. Bukan apa-apa, kemaren itu lokasi penyembelihan sangat dekat dengan rumah. Dulu sih pernah diajak, tapi kala itu ia masih kecil banget, belum setahun umurnya.

"Kenapa mbek-nya dikolbankan, Babah? Amah  ndak mau ia disembelih, Amah sayang mbek," Fathimah menangis sedih ketika melihat kambing-kambing digorok lehernya.
Abinya (Fathimah memanggilnya Babah) menjelaskan, itulah yang disebut dengan peristiwa qurban. Kemudian dijelaskanlah bagaimana peristiwa itu terjadi, kisah Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Nabi Isma'il a.s., tentu saja dengan bahasa anak-anaknya. Alhamdulillah ini tidaklah terlalu sulit untuk menjelaskannya karena di sekolahnya (TK A) Fathimah juga sudah mendapatkan informasi dari ibu gurunya bahkan mereka dilibatkan dalam kegiatan manasik haji di sekolah.
Fathimah (kanan) dan temannya Nazwa (kiri) sehabis manasik haji
Fathimah (kanan) dan temannya Nazwa sehabis manasik haji

          Ternyata tontonan penyembelihan itu 'terekam baik' oleh Fathimah. Beberapa hari setelah peristiwa penyembelihan itu, Fathimah menanyakan sesuatu yang membuat saya terkejut. Ia ngin mempraktekkan penyembelihan juga.
"Apa Ummi mau dikolbankan?" tanyanya dengan lugunya. 

Jumat, 12 Juli 2013

Plontos



“Rambut siapa tuh yang berserakan di kamar. Apa rambut Ummi?” Fathimah-ku bertanya dengan huruf ‘r’ nya yang belum bersih.
Terang saja saya bingung, lha yang tadi main di kamarnya bukannya dia, gadis kecilku itu? Saya kan sedang sibuk memasak. “Bukan sayang, bukan rambut Ummi. Jangan-jangan itu rambut Fathimah. Ummi lagi masak ini, belum masuk kamar.”

Jumat, 28 Juni 2013

Makanya, Ummi Harus Rajin-rajin Mengaji Al Qur-an,...

Kembali lelaki kecilku sedikit 'mogok'. Hamzah berharap Jum'at ini pergi sholat bareng Abi, tapi ternyata Abi dah berangkat dari tadi malam ke 'bumi perkemahan'.
"Jum'at ini libur dulu sholat Jum'atnya ya, Mi," Hamzah merajuk.
"Tidak bisa sayang, kok sholat pakai libur2. Yang libur2 sholat itu anak perempuan kalau sudah baligh."
"Tapi Hamzah maunya sholat Jum'atnya sama Abi."
"Abinya kan pergi, sayang. Nanti Ummi anterin lagi sampai teras mesjid, bagaimana?"
"Hamzah ini kan masih kecil Mi, belum wajib sholat Jum'atnya."
Tuh, mulai lagi deh.

Ummi Jaat...Ummi Jaat Amah



Fath kecilku sama seperti kakak-kakaknya , suka meniru, bertanya dan berkomentar seusai dengan nalarnya. Saya memang membiasakan menanyai anak-anak tentang pendapat mereka terhadap sesuatu dan memberi mereka ruang berkreasi. Menurut saya itu penting, karena akan memicu analisis, kepedulian dan juga aktifitasnya. Sekalipun begitu tak jarang saya tetap terkejut-kejut menghadapi tingkah mereka.

Suatu ketika saya pernah menemukan Fath bergelantungan di kain jendela hordeng kamar. Tentu saya agak khawatir, mana kuat hordeng itu menahan berat tubuhnya, belum lagi tangannya kan belum begitu kuat, masih 2 tahun dia kala itu. Saya hampiri dan bertanya, "Dek Fath lagi ngapain, hati-hati...nanti bisa jatuh lho."
"Ini Mi, lagi menilu Jiego," jawabnya. "Ayun-ayun di pohon."

Selasa, 18 Juni 2013

Segelas Teh Hangat : Mengobati Rindu, Memecah Beku



         Sudah lama saya ingin bercerita tentang teh ini, tapi selalu tak ada momen. Begitu ada momen di SariWangi, maka saya coba untuk menceritakannya. Heheh...sayang sekali, entah salahnya dimana, entah saya kurang mengerti, beberapa kalimat terakhir saya hilang di pos yang saya kirimkan ke http://mari-bicara.com/momen/segelas-teh-hangat-mengobati-rindu-memecah-beku.html .
Di bawah ini saya copaskan utuh dari dokumen saya, dan inilah cerita utuhnya. Selamat menikmati semoga bermanfaat.



 ***

          Saya ini termasuk maniak teh sejak kecil. Entah kenapa, semenjak dulu saya agak susah meneguk air putih. Pertama karena aroma air tanah itu terlalu terasa. Benar, kala itu kami mengkonsumsi air tanah yang diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa air dragon. Kemudian ketika PAM mulai merakyat, lidah saya terlalu sensitif terhadap aroma kaporit yang menurut saya lumayan menyengat. Maka jadilah semenjak kecil itu saya sudah terbiasa mencemplungkan beberapa sendok teh tubruk ke ceret air yang masih panas. Padahal itu satu-satunya ceret yang kami miliki. Saya tetap nekat melakukannya meski dengan resiko dikejar-kejar oleh kakak sulung saya yang marah karena hasil kerjanya saya campuri dengan teh. Bukan teh manis, tapi teh tanpa gula.

         

Minggu, 02 Juni 2013

Jum'atan Pertama Lelaki Kecilku Tanpa Abi

“Nanti kalau sudah kelas 3, Hamzah akan benci hari Jum’at.” Itulah celetukan lelaki kecilku ketika seorang ibu (orang tua murid yang lain) menanyakan kenapa Hamzah belum jum’atan di sekolah. Jum’at itu saya yang bertugas menjemputnya, meski sebenarnya Abinya di dalam kota. Tetapi karena kedatangan Kepala Kantor Pusat, Abinya tidak bisa meninggalkan kantor seperti biasa.

“Kenapa?” Saya penasaran dong, pengen mendengar jawabannya. Meski sebenarnya saya sudah tahu apa jawabannya. Ternyata menurut Hamzah, karena jum’atan di sekolah itu tidak asik, asiknya ikut jum’atan itu di kantor Abi atau bersama Abi. Saya makin geli mendengarnya. Padahal setahu saya, Hamzah bersemangat ikut jum'atan di kantor Abi karena itu berarti habis jum'atan bisa bermain internet sepuasnya dengan sinyal inet yang lancar. Atau kalau tidak sholat di kantor, berarti sholat di mesjid dekat rumah. Itu artinya habis jum'atan bisa berkeliling-keliling dulu seputaran kompleks sebelum masuk ke rumah.

Lelaki kecilku ini baru Maret kemaren 8 tahun usianya. Meski begitu saya ingin ia terbiasa melakukan jum’atan,

Rabu, 22 Mei 2013

Kembali ke Celengan

“Beli sepatu dong Mi,” pinta Hamzah. 
Saya melongo, sepatu? “Ada apa dengan sepatunya, gak muat lagi atau sudah sobek?” saya bertanya ingin tahu. 
Lelaki kecilku cengengesan. 
“Dia mau hadiahnya Mi,”timpal Aisyah, gadisku yang sedang tumbuh besar. 
Hadiah? Aku makin penasaran, hm adakah sesuatu yang tidak ku ketahui? Dan mengalirlah cerita tentang iklan sepatu itu dari mulut kedua bocahku. Jadi ceritanya beli sepatu dapat hadiah mobil. Mobil-mobilan ya, bukan mobil sungguhan.

Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah membelikan Hamzah sepatu sandal berhadiah tank mainan beremot kontrol. Baik sepatu sandal ataupun rencana sepatu yang mau dibeli Hamzah ini juga dari merek yang sama. Hm, trik penjual sepatu untuk memikat anak-anak.