Senin, 23 Desember 2013

Cemburu yang Bernilai Karena Hari Ibu dan Anak

Semenjak memasuki usia SD, anak sulungku Aisyah selalu dapat bisikan dari para gurunya untuk terlibat memperingati hari ibu. Selalu heboh persiapannya. Mulai dari bertanya apa itu hari ibu hingga hadiah apa yang akan diberikannya.
Saya sendiri tidak pernah menganjurkannya untuk memberi hadiah. Saya selalu bilang, menjadi anak yang sholehah, patuh dan rajin belajar adalah hadiah yang tak ternilai bagi saya.

Sejujurnya, hingga di usia saya sekarang, akan memasuki usia 38 tahun, saya tak mengerti apa esensi hari ibu, pun saya tak ingin mencari tahu.

Jumat, 13 Desember 2013

Jika Uni Jadi Pemimpin RS

Tadi siang sepulang sekolah menjelang zuhur waktu semarang kami terhenti sejenak setelah sukses menyebrang di perempatan. Sebuah ambulance dari arah RS Kariadi lewat lengkap dengan raungannya.
Anak2 bertanya, apakah itu orang sakit? Saya jawab, belum tentu, bisa jadi yang dibawa itu adalah jenazah. Kemudian si Uda dan Fathimah kembali tertawa melanjutkan perjalanan, tetapi si Uni-ku mencoba meminta penjelasan lebih.
Saya jelaskanlah bahwa 'sangat jarang' di Indonesia ini orang sakit dijemput dengan ambulance, sejujurnya dalam hati saya malahan tidak yakin akan kata 'sangat jarang' itu, saya lebih yakin jika kata itu diganti dengan 'TAK MUNGKIN.'

Alasannya jelas, memperhatikan kejadian disekitaran saya bahwa ambulance hanya akan 'bergerak aktif' jika itu membawa jenazah dari RS atau pindah dari satu RS ke RS rujukan. Itupun berprosedur dan berbayar.
Padahal ambulance tadi itu kan dari RSUP, jadi kecil kemungkinan merujuk ke RS yang lebih 'kecil.'

Rabu, 11 Desember 2013

Bagaimana Caranya Sperma Bisa Sampai ke Sel Telur?

Seperti biasanya ketika kami (saya dan ketiga anak-anak saya) ngumpul sambil bercerita, selalu ada saja pertanyaan yang harus saya pending jawabannya. Bukan apa-apa, usia anak-anak ini bertikai 'lumayan' jauh untuk sebuah penjelasan serius.

Anak-anakku, si Uda Hamzah, si Uni Aisyah dan si Adek Fathimah

Gadisku, si Uni Aisyah per November kemaren genap 11 tahun, kelas VI SD, sedang masa tumbuh kembang menjadi seorang 'gadis remaja'. Meski ia belum haid, saya kok sedikit 'curiga' bahwa ia mulai 'ngeh' dengan jenis kelaminnya. 
Lelaki kecilku si Uda Hamzah per Maret tahun depan insyaaLlah akan 9 tahun, sekarang kelas III SD. Meski ia suka bertanya ini dan itu tapi pada dasarnya ia masih 'sangat' lugu. Ketertarikannya pada lawan jenis dan bentuk tubuh mereka sejauh ini hanya sebatas pemenuhan sifat ingin tahunya, bukan karena sesuatu yang bersifat nafsu.
Namun pada dasarnya, sebenarnya saya tidak keberatan memberikan uraian/ penjelasan tentang sesuatu yang bersifat sex education kepada mereka berdua secara bersamaan.
Masalahnya adalah si gadis kecil, si Adek Fathimah yang per Mei kemaren baru 4 tahun, sekarang masih di TK A, yang selalu bergabung dalam diskusi kami. Masalah yang paling pokok adalah karena ia tidak bisa untuk tidak terlibat aktif dalam setiap kegiatan, entah itu dengan sikap dan kelakuannya, entah itu dengan celotehnya. Dimana ujung-ujungnya sesuatu hal serius yang kami bicarakan, entah itu perbaikan akhlak/sikap, entah itu cara bertutur dsb menjadi guyonan gara-gara 'ikut campurnya'.

Minggu, 08 Desember 2013

UAS?? Biasa Aja Lagii...

Besok anak2 UAS. Mapelnya PKn dan Bahasa Arab. Meski saya tidak memaksa mereka untuk ambisius, dapat ponten bagus, namun membiasakan mereka mempersiapkan diri secara maksimal adalah prioritas saya.
Ini bukan masalah akan jadi dapat rangking atau tidak, tapi ini masalah pembiasan hal yang baik untuk mereka yaitu mempersiapkan diri secara maksimal dalam menghadapi sesuatu apapun. Sejauh ini saya tetap memahami bahwa hasil belajar yang sesungguhnya itu adalah belajar menjalani  proses.
Ayo persiapkan diri!! Itulah intinya, masalah hasil itu urutan kesekian.

Dan lihatlah, tadi itu Aisyah ketahuan diam2 baca Harry Potter. What?? Besok UAS lho...Tapi gadisku tak marah ketika saya menyita buku bacaannya. Lalu ia sibuk beberes2 buku, bukannya belajar. Hadeh...sekali lagi saya harus mengingatkannya. Meski intonasi suara saya mulai naik, namun saya tidak benar2 bertanduk.

Kamis, 28 November 2013

Seribu Tua

Saya sungguh tak menyangka akan bermasalah dengan si seribu ini,  apalagi ini cuma masalah tua atau bukan. Tapi ternyata si seribu tua ini benar-benar membuat saya pusing. 
Bagaimana tidak, saya kerepotan saban pagi dibikinnya. Harus mbongkar dompet untuk memeriksa apa masih ada seribu tua yang terselip.

Dulu ketika saya masih tinggal di daerah Krapyak, saya tak merasa pusing seperti ini. Karena saban hari jika ke sekolah anak-anak, saya pasti melewati pasar Karangayu. Ada bank di pinggir jalan itu. Saya menabung di sana. Makanya ketika saya nyetor uang, saya menyempatkan diri untuk menukarkan seratus ribuan saya dengan uang seribu kertas. Karena ini bukan bank tempat penukaran uang (BI), apalagi lokasinya disekitaran pasar, sudah bisa ditebak bukan, asal muasal uang seribuan kertas ini, dan bisa dibayangkan betapa lemah lunglainya uang itu.
Itulah uang yang disukai Fathimah, gadis kecilku yang tidak diizinkan sekolahnya untuk membawa uang saku ke sekolah.

Sabtu, 16 November 2013

Sesuatu dari Lelaki Kecilku

Anak itu ya, sesuatu banget yah..., bisa bikin Maknya ketawa ngakak, juga bisa bikin Maknya ngurut dada plus geleng-geleng kepala.
Kemaren itu Hamzah belajar outdoor, di Pantai Marina, dari pagi hingga pukul 1 siang. Pagi-paginya saya sudah keteteran karena bekal lauk untuk bekal makan siangnnya disana, yang harus dibawa dari pagi, habis dimakannya dengan si Uni, dijadiin snack sambil nonton TV.
Ternyata mereka bertiga bersekongkol, Fathimah menghabiskan cabenya, si Uni dan si Uda melahap ayamnya, tandas. Jadilah sepagi-paginya saya ngebut masak disambi ngurus anak 3, sendirian.
Eh pulang-pulangnya dari Marina, Hamzah menenteng kantong asoy (kresek), ternyata isinya umang-umang (kerang-kerang) cilik dalam jumlah yang sangat banyak. Katanya mau dipelihara.

Jumat, 15 November 2013

Apa Ummi Mau Dikorbankan?

          Lebaran haji tahun ini adalah kali pertamanya Fathimah mengerti diajak melihat penyembelihan. Bukan apa-apa, kemaren itu lokasi penyembelihan sangat dekat dengan rumah. Dulu sih pernah diajak, tapi kala itu ia masih kecil banget, belum setahun umurnya.

"Kenapa mbek-nya dikolbankan, Babah? Amah  ndak mau ia disembelih, Amah sayang mbek," Fathimah menangis sedih ketika melihat kambing-kambing digorok lehernya.
Abinya (Fathimah memanggilnya Babah) menjelaskan, itulah yang disebut dengan peristiwa qurban. Kemudian dijelaskanlah bagaimana peristiwa itu terjadi, kisah Nabi Ibrahim a.s. dan anaknya Nabi Isma'il a.s., tentu saja dengan bahasa anak-anaknya. Alhamdulillah ini tidaklah terlalu sulit untuk menjelaskannya karena di sekolahnya (TK A) Fathimah juga sudah mendapatkan informasi dari ibu gurunya bahkan mereka dilibatkan dalam kegiatan manasik haji di sekolah.
Fathimah (kanan) dan temannya Nazwa (kiri) sehabis manasik haji
Fathimah (kanan) dan temannya Nazwa sehabis manasik haji

          Ternyata tontonan penyembelihan itu 'terekam baik' oleh Fathimah. Beberapa hari setelah peristiwa penyembelihan itu, Fathimah menanyakan sesuatu yang membuat saya terkejut. Ia ngin mempraktekkan penyembelihan juga.
"Apa Ummi mau dikolbankan?" tanyanya dengan lugunya. 

Jumat, 12 Juli 2013

Plontos



“Rambut siapa tuh yang berserakan di kamar. Apa rambut Ummi?” Fathimah-ku bertanya dengan huruf ‘r’ nya yang belum bersih.
Terang saja saya bingung, lha yang tadi main di kamarnya bukannya dia, gadis kecilku itu? Saya kan sedang sibuk memasak. “Bukan sayang, bukan rambut Ummi. Jangan-jangan itu rambut Fathimah. Ummi lagi masak ini, belum masuk kamar.”

Jumat, 28 Juni 2013

Makanya, Ummi Harus Rajin-rajin Mengaji Al Qur-an,...

Kembali lelaki kecilku sedikit 'mogok'. Hamzah berharap Jum'at ini pergi sholat bareng Abi, tapi ternyata Abi dah berangkat dari tadi malam ke 'bumi perkemahan'.
"Jum'at ini libur dulu sholat Jum'atnya ya, Mi," Hamzah merajuk.
"Tidak bisa sayang, kok sholat pakai libur2. Yang libur2 sholat itu anak perempuan kalau sudah baligh."
"Tapi Hamzah maunya sholat Jum'atnya sama Abi."
"Abinya kan pergi, sayang. Nanti Ummi anterin lagi sampai teras mesjid, bagaimana?"
"Hamzah ini kan masih kecil Mi, belum wajib sholat Jum'atnya."
Tuh, mulai lagi deh.

Ummi Jaat...Ummi Jaat Amah



Fath kecilku sama seperti kakak-kakaknya , suka meniru, bertanya dan berkomentar seusai dengan nalarnya. Saya memang membiasakan menanyai anak-anak tentang pendapat mereka terhadap sesuatu dan memberi mereka ruang berkreasi. Menurut saya itu penting, karena akan memicu analisis, kepedulian dan juga aktifitasnya. Sekalipun begitu tak jarang saya tetap terkejut-kejut menghadapi tingkah mereka.

Suatu ketika saya pernah menemukan Fath bergelantungan di kain jendela hordeng kamar. Tentu saya agak khawatir, mana kuat hordeng itu menahan berat tubuhnya, belum lagi tangannya kan belum begitu kuat, masih 2 tahun dia kala itu. Saya hampiri dan bertanya, "Dek Fath lagi ngapain, hati-hati...nanti bisa jatuh lho."
"Ini Mi, lagi menilu Jiego," jawabnya. "Ayun-ayun di pohon."

Selasa, 18 Juni 2013

Segelas Teh Hangat : Mengobati Rindu, Memecah Beku



         Sudah lama saya ingin bercerita tentang teh ini, tapi selalu tak ada momen. Begitu ada momen di SariWangi, maka saya coba untuk menceritakannya. Heheh...sayang sekali, entah salahnya dimana, entah saya kurang mengerti, beberapa kalimat terakhir saya hilang di pos yang saya kirimkan ke http://mari-bicara.com/momen/segelas-teh-hangat-mengobati-rindu-memecah-beku.html .
Di bawah ini saya copaskan utuh dari dokumen saya, dan inilah cerita utuhnya. Selamat menikmati semoga bermanfaat.



 ***

          Saya ini termasuk maniak teh sejak kecil. Entah kenapa, semenjak dulu saya agak susah meneguk air putih. Pertama karena aroma air tanah itu terlalu terasa. Benar, kala itu kami mengkonsumsi air tanah yang diangkat ke permukaan dengan menggunakan pompa air dragon. Kemudian ketika PAM mulai merakyat, lidah saya terlalu sensitif terhadap aroma kaporit yang menurut saya lumayan menyengat. Maka jadilah semenjak kecil itu saya sudah terbiasa mencemplungkan beberapa sendok teh tubruk ke ceret air yang masih panas. Padahal itu satu-satunya ceret yang kami miliki. Saya tetap nekat melakukannya meski dengan resiko dikejar-kejar oleh kakak sulung saya yang marah karena hasil kerjanya saya campuri dengan teh. Bukan teh manis, tapi teh tanpa gula.

         

Minggu, 02 Juni 2013

Jum'atan Pertama Lelaki Kecilku Tanpa Abi

“Nanti kalau sudah kelas 3, Hamzah akan benci hari Jum’at.” Itulah celetukan lelaki kecilku ketika seorang ibu (orang tua murid yang lain) menanyakan kenapa Hamzah belum jum’atan di sekolah. Jum’at itu saya yang bertugas menjemputnya, meski sebenarnya Abinya di dalam kota. Tetapi karena kedatangan Kepala Kantor Pusat, Abinya tidak bisa meninggalkan kantor seperti biasa.

“Kenapa?” Saya penasaran dong, pengen mendengar jawabannya. Meski sebenarnya saya sudah tahu apa jawabannya. Ternyata menurut Hamzah, karena jum’atan di sekolah itu tidak asik, asiknya ikut jum’atan itu di kantor Abi atau bersama Abi. Saya makin geli mendengarnya. Padahal setahu saya, Hamzah bersemangat ikut jum'atan di kantor Abi karena itu berarti habis jum'atan bisa bermain internet sepuasnya dengan sinyal inet yang lancar. Atau kalau tidak sholat di kantor, berarti sholat di mesjid dekat rumah. Itu artinya habis jum'atan bisa berkeliling-keliling dulu seputaran kompleks sebelum masuk ke rumah.

Lelaki kecilku ini baru Maret kemaren 8 tahun usianya. Meski begitu saya ingin ia terbiasa melakukan jum’atan,

Rabu, 22 Mei 2013

Kembali ke Celengan

“Beli sepatu dong Mi,” pinta Hamzah. 
Saya melongo, sepatu? “Ada apa dengan sepatunya, gak muat lagi atau sudah sobek?” saya bertanya ingin tahu. 
Lelaki kecilku cengengesan. 
“Dia mau hadiahnya Mi,”timpal Aisyah, gadisku yang sedang tumbuh besar. 
Hadiah? Aku makin penasaran, hm adakah sesuatu yang tidak ku ketahui? Dan mengalirlah cerita tentang iklan sepatu itu dari mulut kedua bocahku. Jadi ceritanya beli sepatu dapat hadiah mobil. Mobil-mobilan ya, bukan mobil sungguhan.

Beberapa waktu yang lalu saya memang pernah membelikan Hamzah sepatu sandal berhadiah tank mainan beremot kontrol. Baik sepatu sandal ataupun rencana sepatu yang mau dibeli Hamzah ini juga dari merek yang sama. Hm, trik penjual sepatu untuk memikat anak-anak.

Kamis, 25 April 2013

Fathimah-ku yang Sedang Senang Bernyanyi

InsyaaLlah 2 Mei 2013 ini Fath-ku akan memasuki 4 tahun pertamanya. Sedang lucu-lucunya sih menurut saya. Hahahaa...ya iyalah, saya kan Emak-nya.
Sekarang Fath sedang senang bernyanyi. Nyanyi apa saja. Pada Hari Minggu, Burung Kakak Tua, Naik-naik ke Puncak Gunung, Ambilkan Bulan, I love You-nya Barney , Kring-kring Bunyi Sepeda dan Anak Kambing Saya.
Fathimah Nurzakiyyah Muthi'ah (dok.pribadi)

Kadang-kadang Fath keterlaluan juga candunya, masa di atas angkot dia masih nyanyi-nyanyi. Eh...tak jarang pula ia mengajak saya berduet.

Minggu, 17 Maret 2013

Saturday is Special Day, for Me

Duluu setiap hari itu sama bagi saya. Mau Senin, Selasa hingga Minggu, sama-sama saya isi dengan kesibukan. Kala itu Bapak (alm) saya suka protes, kok saya pergi-pergi terus. Untuk Senin - Sabtu Beliau bisa memahami, saya mengajar. Tapi untuk Minggu Beliau benar-benar tidak paham. Tapi itu dulu sebelum saya menikah.
Setelah menikah, Sabtu menjadi hari yang 'sesuatu' banget buat saya.
Bagaimana tidak,
Pertama :
Sabtu  tanggal 14 Oktober 2000 adalah hari dimana saya melepaskan masa lajang. Di hari itu saya resmi berubah status menjadi 'menikah', ya benar hari itu saya resmi menjadi seorang istri.

Kedua :
Sabtu saban minggunya adalah hari dimana saya ada yang menemani, karena Sabtu adalah hari libur kerja suami.